By Socrates – Tiongkok atau China, memang luar biasa Negeri tirai bambu itu kini ibarat naga yang menggeliat dan bangun dari tidur panjangnya. Sebagai salah satu pusat peradaban dunia, kemajuan China seperti air tanggul yang tak terbendung. Beberapa kali melawat ke negeri Tirai Bambu itu, inilah gambaran kemajuan China.
China negeri yang luasnya sungguh tak terkira. Selain luas, warganya pun paling banyak di dunia. Hampir 2 miliar penduduk bumi ada di sana. Dunia memberi julukan China dengan sebutan Negara Tirai Bambu. Julukan ini muncul saat perang dingin 1947- 1991. Julukan ini menunjukkan sekat antara wilayah rezim komunis China dengan negara non kumunis. Sedangkan Uni Soviet dijuluki negara tirai besi.
Selain itu, tanaman bambu banyak tumbuh di berbagai wilayah Tiongkok. Bambu juga makanan bagi panda, binatang khas China. Selain itu bambu China terkenal dengan kualitasnya yang baik sehingga tidak mudah dipatahkan. Layaknya tirai, bambu tumbuh bergerombol dan menutupi sesuatu. Makna ini sesuai dengan falsafah politik China yang menganut paham sosialis.
Data tahun 2003 penduduknya tercatat sebanyak 1.286.975.468 jiwa. Jumlah penduduk China pada tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran 1,41 miliar jiwa. Data dari lembaga Worldometer, estimasi pertengahan tahun 2026 menem-patkan populasi Tiongkok pada angka 1.412.914.089 jiwa, yang mencakup seki-tar 17% dari total populasi dunia.
China hari ini, menampilkan peradaban kuno dan dunia modern. Kota-kota lama berusia ratusan tahun, berpadu dengan tumbuhnya kota modern yang men-cengangkan. Pemerintah China yang mulai meninggalkan komunisme dan ber-gerak ke sosialisasi kapitalis, perekonomiannya kini melesat yang dipicu oleh investasi asing dan kemajuan teknologi.
Pemerintah China tampaknya menyadari betul, jalan raya adalah urat nadi perekonomian. Jalan-jalan tol yang mulus dan lebar, membentang dari kota ke kota China. Di pembatas jalan ditanami pepohonan yang mengurangi debu yang berterbangan sekaligus mempercantik wajah kota. Menempuh tol di China tak terkesan kaku dan dinginnya jalan beton. Jalan-jalan tol tidak hanya didalam kota, tetapi juga antar provinsi.
Misalnya jalan tol dari kota Shanghai ke Hangzhou di provinsi Sheciang yang bisa ditempuh selama tiga jam. Hebatnya, jalan bebas hambatan itu bebas biaya karena semua dibangun oleh pemerintah China, alias gratis. Di beberapa ruas jalan, tampak beberapa pekerja memperlebar jalan tol yang sudah lebar itu. Diperhentian bus, dipasang foto-foto korban kecelakaan yang pernah terjadi, agar supir lebih berhati-hati. Sepanjang jalan, terhampar tanah subur dan areal pertanian yang luas.
Selain Hongkong yang menjadi hub dinegara-negara Asia yang sudah diserah-kan Inggris sejak 1 Juli 1997, China kini memiliki beberapa kota penting yang menjadi icon kemajuan Negara tirai bambu itu seperti Shenzen, Shanghai, Gu-angzou, Wu Zhi dan Beijing. Dengan luas wilayah 337.030 km2 penduduk China nomor dua terbanyak di dunia, setelah India.
Selain kekuatan ekonominya yang mulai menggeliat, China juga punya tentara paling banyak di dunia. Oded Shenkar pakar manajemen Bisnis Amerika dalam bukunya the Chinese Century meramalkan, pada tahun 2025 China bakal menjadi pesaing dan bakal mengalahkan Amerika Serikat. Kekhawatiran Amerika mulai kentara. Mata uang Yuan diminta dinilai ulang, namun di cuekin China. Terakhir, Amerika memberlakukan kuota ekspor tekstil asal China.
Sementara China berusaha keras mendapatkan supremasi dunia. Baik dalam berbagai kegiatan pameran kelas dunia, menjadi tuan rumah Olimpiade dan berhasil mencatat sejarah mengumpulkan semua piala bergengsi dalam olahraga bulutangkis.
Sedikitnya ada empat faktor pendorong kemajuan China. Antara lain, meningkatkan perdagangan, investasi asing dan pariwisata disertai sikap disiplin masyarakatnya. Jadi, tidak berlebihan jika 20 tahun mendatang, China bakal mampu menggeser Amerika Serikat menjadi Negara Adidaya. China punya empat musim, sama dengan Negara-negara Barat lainnya. Kemakmuran me-ningkat dan pemerintahnya kuat. Apalagi wanita China seperi Shuzou dan Shanghai terkenal cantik dengan kulit halus kemerahan.
Suasana dan kemajuan China menjadi daya tarik tersendiri bagi bule-bule. “Banyak orang asing yang betah tinggal di China dan akhirnya memilih menjadi warga China,” kata Budi pemandu wisata yang sangat ingin melihat Bali. Di tembok besar China atau The Great Wall yang terkenal itu, beberapa wanita bule tampak menggendong bayi-bayi bermata sipit.
Ribuan turis dari berbagai belahan dunia datang ke tembok yang menjadi salah satu keajaiban dunia sepanjang 6700 kilometer itu. “Tidak ada yang pernah menelusurinya jalan kaki. Panjang Great Wall lebih jauh dari jarak Jakarta-Beijing,” kata Budi. Geliat bisnis di China juga luar biasa.
Warga Beijing yang mencapai 15 juta sebagian besar tinggal di flat atau apar-temen. Makin tinggi flatnya, makin murah sewanya. Sebab, lift hanya dihidupkan dari jam 5 pagi sampai jam 11 malam. Jika ada yang pulang melewati jam segitu terpaksa melewati tangga.

Saat memasuki kota Beijing, saya terperangah. Pemandu wisata wanita bernama Siok Lan, sangat fasih berbahasa Indonesia. Apakah ia orang Indonesia? Ternyata, ia pernah menjadi orang Indonesia. Siok Lan lahir di Jakarta. Ia terpaksa kembali ke China karena ia warga Negara asing dan diusir dari Indonesia melalui peraturan pemerintah. Padahal, ia terlanjur cinta Indonesia.
“Lebih enak di Indonesia. Disini udah 45 tahun tapi tetap tak disukai orang-orang sini,” katanya lirih. Siok Lan hafal luar kepala lagu-lagu daerah Indonesia. Seperti lagu Betawi dan Sunda. Malah, dengan lancar ia menyanyikan lagu Indonesia Raya. Maka dalam bus itu berkumandang Hiduplah Indonesia Raya…
China juga terkenal dengan obatnya. Sebab, peradaban China sudah eksis sejak berabad-abad lalu. Mulai dari teh hijau, jamu panjang umur, akupuntur sampai ramuan obat kuatdan ginseng. Obat-obat dari China ini, juga menarik minat sejumlah pejabat Indonesia berkunjung dan berobat kesana. Teh hijau dari Shuzou misalnya, bisa menurunkan kolesterol dan menjaga kesehatan tubuh.

“Wanita-wanita Shuzou tidak ada yang gemuk karena mereka punya kebiasaan makan teh,” kata Chollin. Makan teh? Ya karena di China orang orang tidak hanya minum teh tapi ampasnya juga dimakan. Konon, wanita-wanita di Shuzou terkenal cantik dengan kulit halus kemerahan lantaran kebiasaan makan the hijau. Perempuan menjadi lebih ramping lantaran lemak-lemak ditubuh lenyak karena makan teh. Cara menyeduhnya pun lain. Serbuk teh yang sudah dikeringkan, disiram sekaligus diaduk dengan air panas dari ceret ke dalam gelas.
Umumnya, obat-obatan China di ramu dari tumbuh-tumbuhan berkhasiat tinggi. Di Yuyan Garden, taman milik orang kaya Chian tempo dulu, ada pohon Ginko Biloba yang berusia 400 tahun. Begitu pula pohon-pohon yang ada dikelenteng kuno yang terpaksa disanggah lantaran usianya sudah sangat tua. Pohon ini disebutkan sebagai ramuan jamu panjang umur.
“Obat-obat China berbeda dengan obat-obat dari Barat. Obatnya tidak lang-sung menyembuhkan, tapi lebih menekan pada perawatan kesehatan. Apalagi obat-obatan China tidak mempunyai efek samping,” kata Budi pemandu wisata di Beijing. Malah, China memiliki pusat kesehatan kedokteran tradisional Tiongkok dibawah departemen kesehatan di rumah sakit Ye Jin di Beijing.
Profesor Kesehatan dari Karimun
Di pusat riset kesehatan obat tradisional itu, dikelola sembilan orang professor yang sudah sepuh. Yang paling muda usianya 60 tahun dan mereka tampak sehat dan bugar. Salah satu di antara profesor itu adalah Sumarto, yang berasal dari Tanjungbalai Karimun, Kepualau Riau. “Pusat kesehatan ini pernah didatangi untuk berobat para pejabat Indonesia. Mulai dari Presiden Soekarno, Gusdur, sampai Asman Abnur, wakil wali kota Batam,” kata Sumarto yang mengaku sangat jarang pulang ke Tanjungbalai Karimun.
Sumarto mengoleksi kartu nama para pejabat Indonesia yang datang berobat kesana. Namun, tidak diketahui apa penyakit yang diderita para pejabat Indonesia yang datang berobat kesana, kecuali Gusdur yang berusaha mengobati matanya. Sumarto enggan mengungkapkannya. Selain dari tumbuhan pengobatan juga dilakukan dari tusuk jarum atau akupuntur dan pemijatan.
Menurut Sumarto dengan bahasa Indonesia yang fasih, pengobatan China didasari oleh keseimbangan Yin dan Yang. Ada empat organ vital manusia yang harus diperhatikana, seperti jantung, ginjal, hati dan paru-paru. Ia menjelaskan bagaiana organ vital ini harus seimbang dan tidak sampai panas menjalankan aktivitasnya.
Uniknya, cara pemeriksaan kesehatan tradisional tidak perlu stetoskop seperti seorang dokter. “Cukup dengan melihat rona wajah seseorang dan memeriksa nadinya, penyakit yang diderita seseorang bisa diketahui,” ujar Sumarto. Para profesor itu hanya memegang nadi dengan tiga jarinya, lalu menyebutkan apa penyakit pasien dan obat apa yang harus dimakan.
Bagi pasien dari Indonesia, ada beberapa orang yang bertugas sebagai pen-terjemah apa yang dikatakan professor itu. Juga dibagikan brosur yang berisikan daftar nama obat, komposisi bahannya dan kegunaannya dari China Preserving Health Training Centre. Misalnya obat Shu Jin Tong Jionang. Obat berupa kap-sul ini bisa menghilangkan rematik, melancarkan peredaran darah dan menam-bah darah dan menghilangkan rasa sakit dan menguatkan otot.
Obat yang dibuat dari akar tumbuhan berguna untuk menyembuhkan bengkak dan sakit tulang, pinggang pegal, badan terasa dingin tulang keropos. Obat ini diminum empat butir sekaligus setelah makan pagi dan malam. Obat lain yang diminati misalnya Ban Long Gu Shen, yang bisa menguatkan ginjal, menyembuhkan impotent, ejakulasi dini, kemandulan, suka lupa dan uzhur sebelum waktunya.

Obat ini dikatakan mujarab untuk meningkatkan fungsi seks. Obat lain seperti Nao Xue Kang Di Wan bisa mencegah dan mengobati stroke. Bagi wanita yang diminati antara lain tablet Honghua yang bisa melancarkan sirkulasi darah, menyembuhkan gangguan haid dan keputihan, sudah tidur dan mandul lantaran rahimnya dingin. Obat-obatan dipusat riset kesehatan ini relative mahal dan bisa dibeli dengan dollar Amerika. Keaslian obat-obatan dipusat riset itu, dijamin keasliannya oleh pemerintah China. Dan obat tersebut tidak dijual bebas dipasaran.
Ada beberapa pusat pengobatan lain di China yang juga sangat terkenal. Ratusan bahkan ribuan bus yang mengangkut wisatawan manca Negara, mengalir mengunjungi pusat pengobatan itu. Malah, sebelum dijual, keampuhan obat seperti Baofuling diperagakan. Seorang wanita yang sengaja memegang besi yang dipanaskan mencapai 900 derajat Celsius, saat diolesi Baofuling, dalam tempo sepuluh menit langsung sembuh seperti semula.
Baofuling sangat manjur menyembuhkan luka baker dana menghilangkan gatal. Juga dipakai untuk alergi, wasir, digigit serangga, eksim dan sakit otot. Dari belasan daftar obat yang dibikin dan dipasarkan, juga disebutkan obat apa saja yang paling laris dari perusahaan itu, semisal Guilu Zishen Wan yang bisa menambah sperma dan memperkuat Syahwat, Wuzi Yanzong Wan untuk ejakulasi dini, Zai Zao Wan menambah Yin dan memperkuat Yang, Qufeng Shujiwan dan Shou Wu Wan.
Selain itu, batu giok yang menjadi ciri khas China, juga sejak lama dipercaya sebagai batuan yang baik untuk kesehatan. Cukup? Oh belum, kalau tidak memasukkan obat kuat dalam daftar obat China. Ada Viagra buatan China yang dipercaya lebih ampuh dari Viagra Barat dan tanpa efek samping. Ada pula serbuk obat perangsang wanita.
Seorang warga Indonesia tampak mencari-cari obat kuat China. “Saya tidak tahu namanya, tapi kalau lihat kemasannya saya pasti tahu,” katanya menceritakan ia pernah menjajal keampuhan obat kuat China yang bisa bikin greng itu. Orang Indonesia, di kalangan para guide memang terkenal malu-malu mau. Bahkan, ada juga yang tak tahu malu. ***




