By Socrates – Salah satu kota penting di China adalah Shanghai. Kota Shanghai dijuluki Paris dari Timur. Jalan-jalan tol bertingkat tiga didalam kota, kota istimewa ini juga terkenal rapi dan bersih. “Lalu lintas Shanghai terbaik diseluruh China,” kata Cholin Chai, pemandu wisata yang orangtuanya lahir di Bangka dan terpaksa kembali ke China. Di beberapa ruas jalan utama, dipasang lampu penunjuk kondisi kemacetan, kalau lampunya berwarna kuning, berarti agak macet, merah macet dan hijau lancar.

Dengan luas 6.410 km2 penduduk Shanghai terbanyak di China. Jumlah penduduk Shanghai pada tahun 2026 diperkirakan berkisar an-tara 24,7 juta hingga 29,5 juta jiwa. Namun, tingginya mobilitas penduduk se-hingga saat tertentu penduduknya melonjak jadi 30 juta jiwa. Kota Shanghai yang berusia sekitar 500 tahun, kini di mekarkan menjadi dua. Kota baru ditandai dengan Bandara Pudong dan kota lama Phusi dan tergolong mak-mur.
Shanghai juga punya jembatan lengkung Lu Pu Tha Ciau dari sungai Yangtse ke laut Timur dan terpanjang di dunia. Shanghai juga terkenal sebagai kota wisata yang menakjubkan. Gedung-gedung diatas 30 lantai jumlahnya mencapai 4.700 buah. Kombinasi gedung tua dan gedung modern dengan arsitektur futu-ristik membuat Shanghai makin fantastic. Malah, belakangan sejumlah selebritis termasuk Andy Lau, membeli rumah di Shanghai.

Kota yang tertata rapi lantaran pemerintah memutuskan menggusur rumah-rumah penduduk dan menggantinya dengan membangun apartement. Meski tanahnya luas namun pemerintah sudah menerapkan pembangunan secara vertikal dengan membangun apartemen dan gedung pencakar langit.
Rumah warga Shanghai umumnya bertipe kecil beratap genteng. Saking sem-pitnya, umumnya rumah di Shanghai tak punya kamar mandi dan WC. Di bawah atap, sengaja diberi jendela karena ada musim panas bisa mencapai 42 derajat celcius. “Setiap rumah di Shanghai harus ada AC,” kata Cholin Chai, yang terpaksa mandi sauna setiap hari ketika menyewa rumah di Shanghai.
Sebuah apartemen berlantai 50 dipasangai bendera dan tulisan huruf china di depannya. Ternyata, itulah bentuk protes penghuninya karena pengembang-nya tidak memenuhi harapan pembelinya. Menurut Cholin Chai, tulisan – tulisan itu merupakan makian dari penghuni apartemen disetiap lantai. Warga China kini takut berdemontrasi setelah pemerintah melibas habis mahasiswa dalam peristiwa Tian An Men.

Rumah kecil dan hanya satu kamar menjadi anekdot warga Shanghai, sepa-sang pengantin baru yang tinggal serumah dengan mertua, sore-sore sang mertua sengaja duduk-duduk di depan rumah sambil mengipas-ngipas mengusir kegerahan. Nah, saat itulah pengantin baru tadi memadu kasih. “Mertuanya sedang meminta cucu dan memberi kesempatan pada pengantin baru,” ujar Ccholin tertawa.
Saat malam tiba Shanghai bermandikan cahaya gemerlapan. Mulai dari ba-ngunan kuno ratusan tahun seperti hotel Palace hingga hotel Westin dengan kuncup menyerupai cempaka putih di puncaknya, dihiasi lampu aneka warna. Bangunan itu berjejer disepanjang sungai Huangpu dengan tata cahaya tertata api dan sinar laser menyambar ke angkasa.
Beberapa kapal ukuran sedang yang dibuat mirip kapal pesiar, disewakan me-lintasi sungai yang membelah Shanghai 60 Yuan atau setara Rp75 ribu perorang untuk menikmati Shanghai yang bermandikan cahaya di malam hari. Shanghai memang aduhai.
Pariwisata China juga maju pesat. Saban tahun 100 juta turis terutama dari Korea dan Jepang (menurun setelah hubungan China-Jepang memanas) dan domestik. Mengalir ke negeri panda itu. Dan 300 ribu orang di antaranya dari Indonesia. Namun, China masih harus berbenah.
Selain menjual peradaban kuno dan kisah dinasti yang pernah berkuasa, toilet di objek wisata jorok dan bau. Belum lagi susahnya komunikasi lantaran karya-wan hotel di China bahasa Inggrisnya kacau. Di depan hotel, ada pulau germo yang menawarkan kemolekan gadis-gadis panggilan.

Di Nanjing Road yang dikenal surga belanja wisatawan, jangan gampang tergoda wanita Shanghai. “Cewek-ceweknya terkenal mata duitan. Banyak cerita bule-bule yang dikerjai di Nanjing Road dan terpaksa membayar 8.000 Yuan,” kata Cholin wanti-wanti.
Peringatan itu terbukti, saat melintasi Nanjing Road sendirian, dua wanita se-gera mendekat dan bicara inggris pas-pasan. Are a lone Sir? Do you want lady massage or sex? Tanyanya beruntun, jika Anda mengangguk wanita yang diba-wanya segera ditawarkan. Beberapa lelaki yang diduga germo bahkan tidak segan-segan mengikuti sampai ke dalam toko menawarkan wanita bokingan.
Seorang wanita tua pundaknya ditepuk keras, diusir dan dimaki-maki beberapa lelaki, namun wanita itu hanya senyum-senyum sambil beranjak pergi. Ternyata, tiga lelaki itu polisi berpakaian preman yang memang merazia praktek prostitusi di Nanjing Road. Tapi begitulah, duit 1000 Yuan sangat berarti bagi wanita kupu-kupu malam itu hidup dikota metropolis seperti Shanghai dan Beijing.
Barang-barang palsu juga marak di China. Di berbagai kawasan wisata, banyak di jumpai pedagang asongan yang menawarkan jam Rolex palsu seharga 15 Yuan saja. Lantaran orang Chian sudah susah menyebutkan huruf R, mereka bilang “ Loek, Lolek” kepada turis. Huruf R tampaknya tidak ada dalam kosa kata orang China. Sampai-sampai Ying Li pemandu wisata di Suzhou berlatih menyebut kata dokterr.. ularr.. dan kata-kata yang menyebutkan huruf sulit itu. Di Hangzou puluhan orang berdiri dipinggir jalan menunggu bus dari Shanghai dan menawarkan diri jadi pemandu wisata.
Jika kota sepeti Batam Green City hanya jadi slogan, Hangzou ibarat kota taman. Bersih dan tak ada sampah di jalan. Bungan bermekaran dan kota ini sangat artistik. Pepohonan dimana – mana lantaran setiap warganya diwajibkan menanam 50 batang pohon.
Salah satu kota yang ditawarkan ke wisatawan adalah Shuzou yang terkenal sebagai kota air dan sutra. “Shuzou dijuluki sebagai kota surga di bumi, wanita-nya terkenal cantik, kulitnya halus kemerahan,” ujar Ying Li berpromosi. Berbagai kelenteng besar peniggalan tempo dulu, taman Yuyuan Garden, Budha Giok, Kelenteng miring dan pabrik sutra serta pengolahan mutiara adalah obyek wisata yang dibanggakan China.

Begitu pula kisah-kisah Sam Pek Eng Tay, kisah ular putih dan Shui Shien dan cerita Cikung yang mengukit bebatuan menjadi patung Budha dan ranjang batunya yang dianggap bisa memberi hoki dan keberuntungan dijadikan cerita menarik buat turis yang datang.
Nanjing dan Beijing juga kota yang menarik minat wisatawan. Sementara, Whuzi yang memiliki West Lake dan danau Hu menjadi kota investasi asing, terutama AS, Jepang, Singapura dan sebagian kecil pengusaha Batam. “Upah lebih murah di China dan tak ada demonstrasi,” kata Abidin, yang membikin pabrik di China, suatu ketika. Salah satu kawasan industrinya adalah Jiangsu Wuxi Liyuan Economic Zone.
Nanjing sebagai ibukota provinsi Xiangsu dibelah sungai Yang Tse selebar 155,7 meter. Kota ini pernah 10 kali menjadi ibu kota Tiongkok dan sudah ada sejak 2400 tahun yang lalu. Jembatan panjang dua susun yang megah diatasnya dilewati mobil dan dibawahnya 200 pasang kereta api yang dibangun sejak 1968.

Kota ini juga dijuluki kota api lantaran pada musim panas suhunya diatas 40 derajat celcius dan minus 22 derajat saat musim dingin. Meski China memproduksi sepeda motor, namun dijalan-jalan jarang tampak kendaraan roda dua itu, selain sepeda. Nanjing misalnya, ada 10 ribu taksi, 2 juta sepeda dan pepohonan yang menjadi pelindung dan keasrian kota.
“Pemerintah China sejak sepuluh tahun lalu melarang sepeda motor karena menimbulkan polusi dan bising,” kata Budi pengacara yang nyambi jadi Tour Guide. Apalagi, harga mobil di China lebih murah dibandingkan Indonesia. Pro-duk-produk China kini mulai merambah kemana-mana. Meski mutunya kurang, tapi harganya murah. Televisi 29 inci hanya dijual 1500 Yuan atau sepersepuluh harga televisi buatan Jepang.
China juga menunjukkan bagaimana China mengelola pameran berkelas dunia dan terbesar di Asia. Malah, sampai tiga tahun ke depan sudah terjadwal pameran otomotif, pengolahan makanan dan sebagainya di 15 gedung pameran berkelas internasional itu. ***




