By Sultan Yohana – Inilah masjid pertama di Singapura. Namanya Masjid Sultan. Terletak di Kampung Glam, Singapura. Sejarah masjid ini berawal saat Singapura diserahkan ke Inggris tahun 1819. Inggris memberi sedikit keistimewaan pada Temenggong Abdul Rahman, penguasa di Pulau Singapura kala itu dan Sultan Hussain Shah dari Johor yang merupakan pemilik pulau Singapura saat itu.
Sultan Hussein Shah yang punya darah keturunan Bugis (Indonesia), anak sulung dari penguasa Kesultanan Johor-Riau-Lingga Sultan Mahmud Shah. Tumenggung dan Sultan Husain Syah mendapat tunjangan hidup hak atas Kampong Glam. Sultan lalu membawa pengikutnya dari Kepulauan Riau, dan membangun istana di Singapura.

Sultan Hussain yang kemudian memutuskan untuk membangun masjid untuk menyelaraskan jabatannya sebagai Sultan yang dimulai pada 1824 hingga 1826. Bangunan masjid yang pertama dibangun berbentuk masjid tradisional nusantara dengan atap limas bersusun tiga. Masjid tersebut, menjadi pusat komunitas Islam di Singapura seperti pedagang Arab, Boyan dan Bugis dan menjadi kawasan pemukiman warga asal Indonesia. Tahun 1920 masjid tersebut direnovasi dan arsitekturnya seperti sekarang.
Nama-nama jalan di sekitar Masjid Sultan berkaitan dengan suku bangsa yang bermukim di kawasan itu seperti Arab Street, Baghdad Street dan Kandahar Street. Sampai saat ini, masjid bersejarah itu masih menjadi daya tarik utama bagi wiasatawan asing yang datang ke Singapura. Pengelolaan masjid dikepalai oleh Alauddin Shah, cucu Sultan Hussain hingga tahun 1879. ketika Alaudin Shan Wafat kepengurusan masjid di lanjutkan oleh lima pimpinan komunitas muslim disana.
Tahum 1914 hak guna lahan masjid diperpanjang lagi oleh pemerintah Inggris di Singapura untuk masa 999 tahun dimulai dari tahun 1914. Saat itu juga dibentuk kepengurusan masjid yang baru atau disebut trustees dengan dua perwakilan dari masing masing faksi komunitas muslim di Singapura yang terdiri dari Melayu, Jawa, Bugis, Arab, Tamil dan India Utara untuk merepresentasikan keberagaman komunitas muslim di Singapura.
Anggota trustee saat itu terdiri dari Syed Abrulrahman b Shaik Alkaff and Shaik Abu Baker b Taha Mattar (Arab) Inche Amboo’ Haji Kamaruddin dan Saim b Abdul Malek (Bugis) Hj Wan Abdullah b Omar and A Jalil bin Hj Haroon (Melayu) Hj Mohamed Amin b Abdullah and Hj Mohamed Eusofe Hj Mohamed Noor (Jawa) Mahmood bin Hadjee Dawood and Mohamed b Mahmood Sahab (India Utara) dan Mohamed Kassim Marican dan Yavena Sultan Abdulcader (Tamil)
Interior Masjid Sultan
Pada tahun 1900-an Singapura sudah menjadi pusat perdagangan Islam, Masjid Sultan kemudian sudah tak mampu lagi menampung jemaah yang terus berkembang pesat. Pada tahun 1924, memperingati seratus tahun berdirinya masjid tersebut. Pengurus masjid atau trustees menyetujui sebuah rencana untuk mendirikan masjid baru yang lebih besar menggantikan bangunan masjid lama di lokasi yang sama.

Arsitek Denis Santry dari Swan and Maclaren yang merancang masjid baru tersebut untuk dibangun di atas lahan masjid lama dan lahan tambahan dari keluarga kerajaan. Seluruh pembiayaan juga di tanggung keluarga Sultan denga kontribusi dari komunitas muslim Singapura kala itu termasuk sumbangan botol kaca hijau hijau dari kaum miskin ketika itu. botol botol yang kemudian di jadikan ornamen bawah kubah masjid. Arsitek Denis Santry mengadopsi gaya Sarasenik atau gaya Gotik Mughal lengkap dengan menara menggantikan masjid lama yang berarsitektur Indonesia pada masjid sebelumnya. Pembangunan masjid baru tersebut selesai dikerjakan tahun 1928. Perbaikan dilakukan tahun 1960 untuk memperbaikan ruang utama masjid dan tahun 1993 masjid Sultan Singapura dilengkapi dengan Auditorium dan aula serbaguna.

Hingga kini masjid sultan Singapura masid berdiri kokoh di tempat dimana dia pertama kali didirikan, menjadi salah satu masjid tetua dan terbesar di Singapura dengan daya tampung mencapai 5000 jemaah. Masjid Sultan Singpaura kemudian mendapatkan pengakuan dari pemerintah Republik Singapura para tanggal 14 Maret 1975 sebagai national monument. Dan statusnya pun kini dimiliki dan dikelola oleh Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS). Biaya pembangunan masjid ini dimintakan dari uang “orang bule” di East India Company. Hampir seratus tahun setelah Hussein Shah membangun masjid di daerah Kampung Glam ini, dua arsitek non-Muslim Denis Santry dan Maclaren dipercaya mendesain ulang Masjid Sultan. Mengadopsi gaya Saracenic, kedua arsitek ini memasukkan gaya arsitek yang sama sekali tak Islami: campuran gothic dan Hindu.
Sementara kami salat, ratusan turis berseliweran di sekitar luar masjid. Rata-rata menenteng kamera, turis-turis itu tak jarang berpakaian ala kadarnya: yang perempuan tak jarang bercelana super pendek. Jamaah meluber hingga Bussorah Road, pedestrian paling beken yang membujur tepat di depan masjid. Kanan-kiri pedestrian itu, banyak backpacker hostel, cafe, hingga toko-toko busana. Beberapa bule, terlihat baru bangun, sembari menenteng secangkir minuman panas dan roti, duduk di teras hostel, menonton kami, jamaah yang sholat hingga meluber di pedestrian. Dari pengeras suara: saya betul-betul terharu, ketika khatib meminta para jamaah untuk saling sayang, membunuh rasisme, serta menyerukan perdamaian Dunia. Apa pun keyakinan dan warna kulit kita. ***



