Cerita tentang Kelok 44 dan Kelok 9 Sumbar

By Socrates – Sumatera Barat disingkat Sumbar, terkenal dengan kondisi alamnya yang menawan. Terletak di pesisir barat Sumatera, provinsi ini memiliki laut dan pantai, bukit barisan, gunung-gunung dan danau. Tahun 2025 jiumlah penduduk Sumbar 5,8 juta jiwa, terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota dan ibukota Padang.

Sumatera Barat terdiri dari dataran rendah di pantai barat dan dataran tinggi vulkanik yang dibentuk oleh Bukit Barisan. Garis pantai provinsi ini seluruhnya bersentuhan dengan Samudra Hindia. Provinsi ini juga dilalui oleh garis khatulistiwa, di Bonjol, Pasaman. Juga muara beberapa sungai besar seperti Batang Hari, Siak, Inderagiri, Kampar, Batang Anai, Batang Arau, dan Batang Tarusan.

Sumbar memiliki 29 gunung. Gunung Kerinci di Kabupaten Solok adalah gunung tertinggi.Serta gunung aktif lainnya, seperti Gunung Marapi, Gunung Tandikat, dan Gunung Talang. Sumbar juga memiliki banyak danau. Seperti Danau Singkarak yang terluas dan Danau Maninjau, Danau Talang dan Danau Kembar, julukan dari Danau Di atas dan Danau Dibawah.

Maka, dengan kondisi geografis seperti itu, tidak heran jalan-jalan di Sumbar penuh tikungan tajam, berkelok-kelok atau berbelok-belok, jalan yang sempit dan berliku-liku. Ada dua jalur jalan ekstrem yang cukup terkenal di Sumatera Barat. Yakni, kelok 44 di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yang terkenal karena memiliki  44 tikungan tajam di lereng bukit di atas Danau Maninjau dan Kelok 9 di Kabupaten 50 Kota.

Kelok 9

Sesuai namanya, Kelok Sembilan mempunyai 9 buah kelok (bahasa Minang yang berarti tikungan) dengan sudut putar 180 derjat. Sebuah cara yang dibuat oleh Belanda dalam menyiasati beda tinggi yang mencolok antara jalan bagian bawah dan bagian atas. Informasi dari Leiden Belanda, Kelok 9 dibangun pada tahun 1910. Cara ini efektif untuk memperpendek jarak tempuh karena tidak perlu memutar mengelilingi bukit.

Jarak dari Kota Payakumbuh ke Kelok 9 adalah sekitar 30 kilometer ke arah timur. dari Kota Payakumbuh, Sumatera Barat menuju Provinsi Riau. Kelok Sembilan berjarak kira-kira 70 kilometer dari Bukittinggi arah ke Pekanbaru. Jalan ini membentang sepanjang 300 meter di Nagari Harau Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat dan merupakan bagian dari ruas jalan penghubung Lintas Tengah Sumatra dan Pantai Timur Sumatra.

Jalan ini memiliki tikungan yang tajam dan lebar sekitar 5 meter, berbatasan dengan jurang, dan diapit oleh dua perbukitan di antara dua cagar alam: Cagar Alam Air Putih dan Cagar Alam Harau. Jalan sempit, tikungan tajam sering menjadi sumber kemacetan kendaraan dari Sumbar ke Riau dan sebaliknya.

Kelok 9 dibangun Belanda pada tahun 1908 – 1910. Pada foto pertama, sepertinya dipotret pada saat jalan itu baru selesai dibangun tahun 1910. Ini terlihat dari lingkungan yang bersih dari tanaman-tanaman besar. Bahkan ada yang masih bertumbangan.

Kedua foto ini mengambil lokasi dan angle yang sama, tapi dipisahkan jarak waktu seratus tahun. Dalam foto juga terlihat sebuah mobil menuruni kelok sembilan dan di kejauhan sana terlihat jalan mengular menuju kepekatan rimba raya, ke arah kota Pajakoemboeh atau  Payakumbuh.

Terbayang waktu itu, apa yang ada dalam pikiran para penumpang mobil ketika berjalan dalam naungan batang kayu raksasa di kiri-kanan jalan. Alangkah beraninya!

Foto kedua, seratus tahun kemudian 2010. Perbedaan yang mencolok adalah jalan sudah dilapisi aspal mulus. Kemudian kepekatan hutan terlihat berkurang dan tidak seseram foto seratus tahun sebelumnya. Yang pasti masih sama adalah konstruksi dinding penahan tanahnya.

Dari kedua foto dapat dipastikan dinding itu adalah dinding yang sama. Dilihat dari bentuk dan alur-alur yang ada di permukaan dinding. Seratus tahun menantang panas dan hujan tidak membuat dinding itu lapuk dimakan usia. Jangankan rubuh, sompel pun tidak! Hanya ada penambahan dinding di sebelah kiri arah jurang.

Mungkin untuk pencegahan karena sudah banyak pembalap jalanan yang terjun ke dalam sana. Terakhir, ternyata kedua foto ini memperlihatkan bahwa lebar jalan di sana tidak berubah selama 100 tahun. Padahal, kendaraan yang lewat sudah di kelok itu, berbeda jauh ukurannya.

Pemerintah pusat dan daerah, lalu memutuskan memperbaiki dan membangun jalan layang dan jembatan di Kelok 9 sepanjang 2,5 km. Jembatan ini membentang meliuk-liuk menyusuri dua dinding bukit terjal dengan tinggi tiang-tiang beton bervariasi mencapai 58 meter. Terhitung, jembatan ini enam kali menyeberangi bolak balik bukit. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Oktober 2013. Kelok 9 yang baru ini, sangat menunjang arus mudik lebaran dan penyelenggaraan Tour de Singkarak.

Kelok 44

Kelok 44 atau dalam bahasa Minang kelok ampek puluah ampek dibangun pada masa kolonial Belanda. Namun, tidak ada sumber yang valid, kapan jalan ekstrem ini dibangun. Jalan ini awalnya dirintis dan dibangun untuk menghubung-kan wilayah daratan tinggi seperti Bukittinggi dan Matur menuju kawasan Danau Maninjau.

Dalam catatan, tahun 1949 atau 4 tahun setelah kemerdekaan, kelok 44 menjadi medan pertempuran dan menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia. Pejuang Indonesia menghadang pasukan Belanda yang hendak menyerang Bukittinggi dari arah Danau Maninjau. Pertempuran sengit terjadi di jalur perbukitan ini.

Kelok 44 merupakan tikungan berjumlah 44 belokan. Setiap kelokan memang patah dan diberi nomor berurut. Sepanjang perjalanan dari bukit tinggi menuju danau ini, pelintas akan disuguhi pemandangan berupa sawah-sawah yang berbentuk terasering, pancuran-pancuran air dari sungai yang bertingkat-tingkat, serta hijaunya deretan Bukit Barisan. Panjang jalan ini sekitar 7,8 kilometer.

 

Setiap tikungan diberi nomor urut dari 1 hingga 44, dengan sudut kemiringan tikungan yang tajam (patah) berkisar antara 45 hingga 65 derajat. Jalur ini merupakan urat nadi transportasi sekaligus mahakarya teknik yang menghubungkan perbukitan Matur dengan Danau Maninjau guna membuka akses di medan terjal.

Kini, fungsinya berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan olahraga. Kelok 44 meraih reputasi internasional sebagai rute siksaan paling ikonik dalam ajang Tour de Singkarak, di mana tanjakan ekstremnya menjadi ujian berat bagi para pembalap kelas dunia. Dikelola sebagai kawasan wisata sejarah dan alam unggulan, jalur ini memiliki aturan tidak tertulis demi keamanan: kendaraan yang menanjak wajib didahulukan. Hal ini mengingat medan yang sempit serta kerawanan jalur terhadap bencana longsor.

Kelok 44 juga memiliki panorama alam yang indah dan menawan, terutama saat matahari terbit dan terbenam. Banyak wisatawan yang datang ke Kelok 44 untuk menikmati pemandangan Danau Maninjau yang biru dan hijaunya perbukitan dari ketinggian. Beberapa spot foto favorit di Kelok 44 adalah Puncak Lawang.

Kelok 44 juga menjadi jalur tempuh ke lokasi kejuaraan paralayang di Puncak Lawang yang beberapa kali menjadi tempat kejuaraan paralayang tingkat internasional, seperti Asian Cup Paragliding 2013 dan kejuaraan Paralayang Internasional Agam 2018.

 

 

Sitinjau Lauik

Selain disini dua kelok yang terkenal ini, yakni Kelok 9 di Payakumbu dan Kelok 44 di Maninjau, ada lagi jalan yang ekstrem dan sering memakan korban yakni di Sitinjau Lauik, jalur jalan Padang – Solok. Jalan ini merupakan celah gunung yang dikenal karena kondisi topografinya yang curam dan berkelok. Sitinjau Lauik juga dikenal sebagai salah satu titik rawan kecelakaan dan bencana longsor.

Nama Sitinjau Lauik berasal dari bahasa Minang. Ini berkaitan karena lokasinya di dataran tinggi yang memungkinkan pandangan ke arah wilayah pesisir atau laut dari kejauhan yang berada di perbukitan di atas Kota Padang.

Jalan penghubung antara Padang dan Solok ini dibangun pertama kali pada tahun 1904 untuk memfasilitasi pengangkutan hasil bumi dan komoditas rempah-rempah antar wilayah, dan pembangunan jalur tersebut membutuhkan waktu sekitar sepuluh tahun hingga selesai pada tahun 1914. Sitinjau Lauik berada di wilayah perbukitan dengan kontur medan yang curam dan berkelok. Segmen jalan ini memiliki panjang sekitar 15 kilometer dengan gradien tanjakan yang tinggi pada beberapa titik. ***

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *