Nongsa dan Marina, Kawasan Wisata Pertama di Batam

By Socrates – Pulau Batam pertama kali tercatat dalam sejarah sejak tahun 231 M oleh seorang penulis Tiongkok bernama G.Y. Wang, yang menyebutkan adanya aktivitas masyara-kat di kepulauan Riau, termasuk Batam. Pada masa ini, Batam masih berupa pulau kecil dengan penduduk sedikit, mayoritas hidup dari hasil laut.

Pulau Batam memiliki posisi strategis di jalur perdagangan internasional Selat Malaka, hanya berjarak 20 km dari Singapura. Dengan luas 415 km², Batam merupakan salah satu pulau terbesar di Kepulauan Riau. Pada awalnya, tahun 1965 Batam hanyalah desa kecil di Kecamatan Pulau Buluh, Belakang Padang, dengan sekitar 6.000 jiwa penduduk. Pulau ini minim infrastruktur dan tidak menjadi prioritas pembangunan.

Perhatian besar terhadap Batam, dimulai pada masa pemerintahan Presiden Soe-harto, yang melihat potensi Batam sebagai pusat industri dan perdagangan. Pada awal tahun 1970-an, Batam mulai dikembangkan oleh Pertamina sebagai basis logis-tik industri minyak dan gas bumi. Pada masa ini, merupakan peletakan dasar Batam sebagai kawasan industri.

Menurut Mustofa Widjaja, Ketua Otorita Batam dan Kepala BP Batam periode 2006 – 2016) pariwisata Batam mulai dikembangkan sejak BJ Habibie menjadi Ketua Otorita Batam. Mustofa Widjaja mulai bertugas sebagai staf inspektorat di Otorita Batam di Batam sejak tahun 1982.

Mustofa Widjaja pernah menjabat sebagai Direktur Perencanaan, Pimpinan Proyek Jembatan 2 Barelang, Direktur Pemukiman dan Tenaga Kerja, Deputi Pengawasan dan Pengendalian, Ketua Otoriota Batam, Kepala BP Batam dan orang kedua terlama kedua menjadi pimpinan Batam setelah BJ Habibie. Berikut dua kali wawancara dengan Mustofa Widjaja tanggal 17 Februari 2026 dan tanggal 13 Juni 2026. Petikannya:

Sejak kapan pariwisata Batam dikembangkan?

Batam dikembangkan menjadi kawasan industri, perdagangan, alih kapal dan pariwi-sata, sejak Habibie menjadi Ketua Otorita Batam tahun 1978. Dua kawasan seperti Nongsa dan Marina, tata ruangnya untuk kawasan pariwisata, tapi kemudian dikem-bangkan di seluruh pulau Batam.

Pariwisata Batam berbeda dengan Bali dan Yogyakarta. Sebab, kedua daerah wisata ini memiliki budaya dan alam. Pariwisata Batam hanya menampung situasi yang ber-beda dari Singapura. Serta orang-orang asing yang datang ke Singapura sebagai pusat bisnis, pameran dunia dan sebagainya. Agar tinggal lebih lama di Singapura, pilihannya bisa ke Johor atau ke Batam.

Mengapa saat itu hanya Nongsa dan Marina yang direncanakan sebagai kawasan wisata?

Ada dua wilayah yang direncanakan sebagai kawasan wisata, saat aku masih menjadi Direktur Perencanaan Otorita Batam, yakni Nongsa Point Marina dan Marina City. Alasannya, lahannya masih relatif luas dan Nongsa dan Marina City perlu investasi besar-besaran. Diperlukan infrastruktur. Bukan hanya jalan saja. Tempat parkir yatch itu perlu tempat khusus untuk parkir. Yatch memiliki alat untuk mengukur kedalamam laut untuk parkir. Jadi, pintu gerbang pariwisata Batam itu Nongsa dan Marina City.

Selama saya bekerja di Batam, mulai dari staf sampai jadi pimpinan, empat portofolio bisnis yang dikembangkan, industri, perdagangan, alih kapal dan pariwisata, semua-nya saling melengkapi. Dulu, ada tagline yang diiklankan di baliho yang berbunyi, Batam No Longer Island semacam iklan bahwa Batam itu kota, bukan sebuah pulau. Singapura itu, bentuk fisiknya pulau, tapi dia sebuah negara.

Batam yang dulunya dikenal sebagai pulau terpencil, kini telah bertransformasi men-jadi pusat industri, kawasan perdagangan bebas, dan terhubung melalui Jem-batan Barelang dengan pulau-pulau lainnya, sehingga persepsi mengenai statusnya seba-gai pulau biasa, memang telah bergeser.

Apakah pariwisata dikembangkan dari awal pengembangan Batam atau dampak orang ramai ke Batam?

Menurut Habibie,  generasi sekarang itu, maunya hidupnya berumur panjang, harus sehat, makanannya harus baik. Generasi sebelumnya, mereka menikmati hidup, ka-rena perang dan baru setelah itu merdeka. Pesta-pesta, dansa-dansa untuk menun-jukkan kepada orang lain bahwa dia punya uang. Nah, generasi sekarang tidak lagi seperti itu. Dia punya uang, dan uangnya kemana? Dia mau melihat dunia.

Jadi, pariwisata bukan hanya tumbuh di Batam, tapi dimana-mana. Orang ingin melancong keliling dunia. Habibie menceritakan hal ini sebagai dasar, kenapa kita harus menangkap peluang dari sektor pariwisata. Contohnya Singapura. Jumlah kunjungan wisatawannya besar dari berbagai negara di dunia. Mereka menginap tiga hari berke-liling Singapura. Memang, pariwisata dikembangkan bukan dari awal sekali. Awalnya oil supporting industry. Setelah itu baru ditetapkan sebagai kawasan industri, perdagangan, alih kapal dan pariwisata.

Apa penanda dimulainya pengembangan pariwisata di Batam?

Hotel pertama dibangun di Batam adalah Batam View Beach Resort. Konstruksinya dari beton. Semua kamarnya menghadap ke laut. Hotel dan resort  pertama  di Nongsa, Batam ini, didirikan pada tahun 1986. Terkenal dengan lokasi eksklusif di atas bukit dan pantai pribadi, resor ini memiliki lahan hijau terluas seluas 10 hektar. Pada tahun 2009, resor ini menerima penghargaan Anugerah Batam Madani atas kontribusinya dalam pengembangan pariwisata Batam.

Resort ini melakukan renovasi terakhir pada tahun 2006 untuk memperbarui fasilitas. Hanya berjarak sekitar 35 menit dari Singapura dengan kapal  feri dan 20 menit dari bandara Hang Nadim. Batam View memiliki 200 kamar, pantai pribadi, kolam renang, dan pusat olahraga air.

Pariwisata di Batam mulai berkembang pesat beriringan dengan dibangunnya Bata-mindo tahun 1990. Mereka juga membangun lapangan golf South Link, dan peme-gang sahamnya sama dengan pemegang saham Batamindo, Anthony Salim. Dia juga punya lapangan golf di Lagoi, Bintan. Lahannya di Bintan luas sekali.

Yang perlu dicatat, kebijakan itu baru berjalan apabila penguasa dengan pengusaha, sinkron. Ini bukan kolusi ya? Hanya dengan begitu, bisa jalan. Kalau pengusaha butuh lahan untuk galangan kapal dan lahannya ada. Begitu juga mau bangun hotel dan resort. Tinggal mencari investor untuk membangun.

Setelah Nongsa ditetapkan sebagai zona wisata terpadu eksklusif, kawasan lain seperti Sekupang dan Teluk Senimba juga bertumbuh dengan kehadiran hotel, resort, spa center, hingga entertainment. Habibie secara strategis menempatkan pariwisata sebagai salah satu pilar utama Batam, sejajar dengan industri dan perdagangan. Kawasan Nongsa di ujung timur Batam yang menghadap langsung ke Singapura, sengaja dikembangkan sebagai zona resort eksklusif untuk menarik wisatawan Singapura dan mancanegara.

Sejak kapan wisatawan Singapura melancong ke Batam?

Pada era 1980-an, wisatawan dari Singapura mulai rutin menyeberang ke Batam un-tuk menikmati pantai, resort, golf, belanja, dan kuliner dengan harga jauh lebih murah dibanding di Singapura. Jembatan Barelang yang menghubungkan Batam, Rempang, dan Galang  tidak hanya sebagai infrastruktur ekonomi, tetapi juga menjadi ikon wisata Batam hingga hari ini.

Sedangkan Nagoya dikenal sebagai wisata belanja. Karena barang-barang di Batam murah, ibu-ibu dari Jakarta datang ke Nagoya. Dulu, Marina City terkenal dengan arena Snow City, tapi kemudian terbakar. Dua kali terbakar.

Marina City dulu dikenal sebagai kawasan wisata terpadu yang menjadi andalan Batam. Marina City dan Nongsa direncanakan menjadi destinasi utama pariwisata Ba-tam. Itu sebabnya, d Marina City dan Nongsa ada pelabuhan ferry tujuan Singa-pura. Di Marina City dulu juga ada snow city, berbagai arena permainan seperti gokart, dan dua resort seperti Harris Resort dan Holiday Inn.

Batam sebagai kota wisata belanja kini dilirik sebagai alternatif menjadikan Batam sebagai daerah tujuan wisata. Terutama di kawasan Jodoh dan Nagoya. Batam yang dirancang khusus sebagai kota industri dengan dikeluarkannya Kepres No. 41 Tahun 1973 Tentang Daerah Industri Pulau Batam, telah terus berkembang dan bertrans-formasi menjadi kota tujuan parawisata.

Batam yang menjadi barometer pariwisata Kepri, selama ini selalu masuk tiga besar sebagai pintu masuk kunjungan wisatawan ke Indonesia, setelah Bali dan Jakarta. Pembangunan hotel di Batam terus meningkat. Sejak awal, BP Batam yang dulu bernama Otorita Batam, sudah menjadikan pariwisata sebagai portofolio bisnisnya selain industri, perdagangan dan alih kapal.

Dulu, untuk mendukung sektor pariwisata, Otorita Batam punya Batam Tourist Promotion Board (BTPB). Seiring dengan otonomi daerah, urusan pariwisata diserahkan ke Pemko Batam dan belakangan BTPB berubah menjadi Badan Promosi Pariwisata Daerah.

Secara nasional, portofolio produk pariwisata antara lain, wisata alam 35 persen,  seperti wisata bahari, eko wisata dan wisata petualangan. Wisata budaya 60 persen seperti warisan budaya dan sejarah, wisata belanja dan kuliner serta wisata kota dan desa. Wisata buatan manusia 5 persen seperti wisata MICE dan event, wisata olah raga dan wisata terpadu.

Batam yang mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga menjadi salah satu ikon kota modern di Indonesia, dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi, kemajuan pembangunan yang sangat pesat dan didukung oleh letak yang sangat strategis sehingga Batam juga berkembang dan menjadi sebuah kota prima-dona bagi tujuan wisata baik domestik ataupun internasional. ***

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *