By Socrates – Pattaya, Thailand memang gemerlap. Sebagai sebuah kota wisata yang menyuguhkan berbagai hiburan, tak semua warganya ikut menikmati dengan senyuman pula. Namun ekspresi wajah dan sapaan mereka tetap ramah. Semua potensi dikeluarkan, termasuk kabaret bencong yang memukau.

Menyaksikan Pattaya, saya teringat Batam. Hanya saja para bencong cuma bisa mejeng di Batuampar dan sesekali bikin acara. Yang mereka dapat, hanya pandangan sinis. Padahal, mereka juga bisa “dipasarkan” ke wisatawan. Pantas saja kabarnya banyak bencong kita yang ke Thailand mempercantik dirinya.
Selain Thai Girl Show yang terkenal itu, pertunjukan Alcaraz Cabaret yang diperagakan menarik minat para turis. Tapi jangan sampai terkecoh me-ngira mereka cewek-cewek cantik seperti model dan artis. Sebab, tarian kolosan itu dibawakan oleh para bencong yang sudah berganti kelamin menjadi wanita betulan.
“Jangan salah. Yang menari itu bukan wanita tapi wanita pria alias bencong,” bisik seorang penonton di gedung teater itu. Kalau tak teliti, kita memang bisa terkecoh lantaran lekuk-lekuk tubuh dan gemulai penari itu, memang seperti wanita biasa. Berbagai tarian kolosal yang berkisah tentang Thailand disuguhkan. Kostum penari sungguh menawan. Tampaknya, acara yang dikelola dengan profe-sional itu sudah dipersiapkan secara baik. Diakhir acara, dua petugas menge-darkan kaset dan brosur yang dijual 300 Bath bagi yang berminat. Berfoto de-ngan penari berpakaian seksi juga diminati ketika acara usai.

Sebagai kota turis, kehidupan sosial ekonomi Pattaya sangat dinamis. Menurut Nam Phen (33) warga kota itu menganut kehi-dupan sosial yang bebas lantaran banyaknya pengaruh dari turis yang datang. Wanita berambut pendek dengan mata agak sipit dan bekerja sebagai pemijat tradisional ini bercerita, ka-um wanita di Pattaya terpaksa bekerja keras di bar dan berbagai tempat hiburan karena memang tidak ada pilihan lain. “Tapi saya tak suka mijit orang bule karena butuh tenaga kuat lantaran badannya besar,” katanya.
Ia tak malu-malu bercerita, memang banyak gadis Thailand yang menjual diri pada wisatawan. Ini dilakukan lantaran lelaki Thailand suka mabuk dan berkelahi. “Wanita-wanita Thailand disukai orang Amerika dan Jepang,” katanya. “Banyak wanita disini yang kawin campur dengan orang asing. Kadang bertemu di pasar malam lalu saling jatuh cinta dan kawin,” kata janda tanpa anak ini. Saban hari, Nam Phen melayani panggilan pijat dan tarifnya 500 Bath selama dua jam. Ia hanya mengantongi 100 Bath saja dari jerih payahnya itu.
Supir-supir taksi pun seolah tahu, mempromosikan wanita kepada turis yang datang dari manca negara bisa mendatangkan penghasilan tambahan buat mereka. Dengan bahasa Inggris seadanya, mereka tak segan-segan membawa foto puluhan cewek-cewek yang siap melayani tamu di pinggir jalan. Warga Thai-land tampak serius bekerja di sektor pariwisata. Mungkin ini sebabnya mereka mampu keluar dari krisis setelah berawal dari sana juga.

Kesungguhan Thailand mengelola sektor pariwisata yang meng-hasilkan devisa buat Negara Gajah Putih ini memang luar biasa. Mereka menyadari ketergantungannya terhadap para pelancong yang datang ke negaranya. Setiap atraksi yang ditampilkan, selalu mendatangkan uang tidak hanya bagi pengelolanya tetapi juga untuk warga Thailand yang menggantungkan hi-dup disektor pariwisata. Selain program Amazing of Thailand, informasi yang dibawa oleh turis selepas berkunjung kesana membuat daya tarik tersendiri.
Berbagai program wisata yang ditawarkan biro perjalanan seperti Grand Palace, safari marine park, Thai Ancient Massage, pasar terapung, Alcazar Cabaret Show, Thai Girl Show, berwisata ke pulau Carol, serta mengunjungi Miao Village dan Maesalong Village di Chiangmai semuanya harus bayar sekitar 250 Bath sampai 600 Bath.

Acara yang disuguhkan pemandu wisata cukup padat dan melelahkan. Namun semua wisatawan tampak senang. Dengan speed boat, rombongan dibawa ke Pulau Carol sekitar 10 mil dari pantai Pattaya. Permainan menantang pun disuguhkan. Mulai dari terbang dengan parasut, jetsky, menembak sampai melihat pemandangan dasar laut dari sampan yang alasnya sengaja dipasang kaca. Padahal, keindahan dasar lautnya tak seberapa.
Tapi, mereka memang kreatif. Semuanya mesti bayar. Lantaran kurs mata uang Bath tak beda jauh dengan rupiah, wisatawan asal Indonesia senang-senang saja merogoh koceknya. Meski badan capek, pertunjukan dan atraksi belum selesai. Keesokan harinya, wisatawan diajak ke Nong Nock Tropical Garden, sebuah kebun bunga yang maha luas dan indah.
Digedung pertunjukan, ditampilkan tarian tradisional dengan tempurung dan bambu oleh gadis-gadis Thailand yang cantik. Selain itu, Muay Thai pertandingan tinju ala Thai yang menggunakan tangan dan kaki, juga diperagakan. Sekitar 1.500 penonton terpesona. Puncaknya, atraksi gajah ditampilkan. Binatang berbadan besar itu me-mang sudah sangan terlatih menghibur turis. Mulai dari gajah melukis, mengambil pisang dari penonton, main bola sampai berakrobat dan hormat pada penonton. Anak-anak dan orang dewasa tampak terhibur dengan belasan gajah itu.

Dari gajah, berpindah ke buaya. Seorang anak muda bertubuh ceking de-ngan ikat kepala berwarna merah, bercengkrama dengan beberapa ekor buaya yang cukup besar. Tempat peternakan buaya itu namanya Pattaya Crocodile Farm. Buaya yang bisa menyambar makanan dan ganas itu, diam saja ketika anak muda itu mema-sukkan kepala ke moncong buaya sambil melambaikan tangan.
Sang pawang buaya terus saja ngoceh dengan bahasa Thai dan menampilkan berbagai atraksi dengan buaya-buayanya. Didepan kawasan peternakan buaya itu, sengaja dipasangi patung buaya. Berbagai cendera mata yang berasal dari kulit buaya, dijual, termasuk terlur buaya. Thailand memang dengan serius menjual sektor pariwisata. Kalau bisa ditiru, mungkin kita bakal mampu menyedot pelancong dari berbagai penjuru dunia ke Pulau Batam dan tidak hanya mengenal Bali.
Selain tarif resmi yang dikutip oleh biro perjalanan wisata dan biaya dari setiap pertunjukan yang disuguhkan, ada lagi cara-cara tertentu orang Thailand merogoh kocek wisatawan. Banyaknya turis yang mengalir ke Negara Gajah Putih ini mampu menyedot devisa cukup besar. Sejak mendarat di Bangkok, mau tak mau para wisatawan sudah harus menukarkan mata uang yang dimilikinya dengan mata uang Bath diberbagai tempat penukaran uang yang tersebar di berbagai sudut kota. Apalagi, berbagai cendera mata menggoda mata.

Saat para pelancong menikmati berbagai permainan menantang seperti terbang dengan parasut, menembak dan menikmati hamparan pasir putih di pan-tai, mereka harus bayar berkisar 100 sampai 300 Bath. Namun orang Thailand memang pandai memanfaatkan kehadiran para pelancong ini. Mulai dari kalungan bunga melati, berfoto dengan ular atau gadis-gadis Thailand yang mengenakan pakaian tra-disional atau dengan penari-penari berpakaian seksi. Sekali jepret, 20 Bath.
Bukan itu saja. Saat sarapan dihotel tiba-tiba ada orang yang mengan-tarkan foto-foto para wisatawan saat melayang diudara dengan parasut atau saat menaiki speed boad. Meski umumnya pelancong ini bawa kamera sendiri, selain pengambilan fotonya bagus, rasanya sayang kalau tak dibeli lantaran khawatir foto sendiri tak jadi.
Seorang pelancong asal Malaysia mengaku, ia sudah menghabiskan uang sebanyak 750 Bath hanya untuk berfoto ria. Lantaran ingin membawa kenang-kenangan pulang, ia tak segan-segan membeli setiap foto yang disodorkan kepadanya.” Orang Thailand memang pintar mencari duit,” katanya. Tapi harap dicatat, tidak ada pemaksaan seperti foto antrian di negeri kita!
Berfoto dengan binatang seperti monyet dan berbagai pose harimau, buaya, ular, dan gajah. Anda harus bayar 20 Bath atau setara dengan 1 dollar Singapura dan sama dengan Rp.4500 dengan kurs yang berlaku saat itu. Pisang yang disukai gajah langsung diambil dari tangan penonton dengan belalainya juga harus beli 30 Bath satu sisir. Termasuk kalau ada yang ingin di-gendong dengan belalai gajah atau sekedar berfoto saja.
Tampaknya, Thailand menyuguhkan apa yang dibutuhkan wisatawan. In-formasi yang jelas dan lengkap, keamanan dan kenyamanan serta berbagai per-tunjukan yang menarik buat wisatawan, jauh benar dengan apa yang coba kita jual kepada wisatawan Batam. Padahal, entah berapa banyak biaya yang dihabiskan instansi pemerintah yang melanglang buana keluar negeri untuk berpromosi. Namun, kekhawatiran wisatawan datang ke Batam pun lebih besar sehingga mereka enggan datang. Padahal, kalau orang Singapura tak datang banyak yang terkena getahnya. Mulai dari tukang ojek, supir taksi, hotel dan restoran sampai lontong dan dunia hi-buran malam.
Wow! Ini Dia Thai Girl Show
Meski banyak atraksi yang ditawarkan di Pattaya, pertunjukan seronok wanita Thailand yang bertelanjang bulan sejak lama menjadi pembicaraan hangat ke seantero dunia. Namanya, Thai Girl Show. Kabarnya, pertunjukan ini hanya untuk tontonan turis. Gedung pertunjukan yang bernama coconut itu tak terlalu besar, dan mampu menampung sekitar 200 orang. Di pintu masuk, ber-bagai poster wanita telanjang dipajang, juga ada larangan merokok dan memotret dengan tulisan mencolok, No Foto!
Para wisatawan laki-laki dan perempuan, tua dan muda bergegas masuk ke gedung pertunjukan dua tingkat itu. Atraksi mirip pertandingan tinju, tapi tanpa ring. Semua berharap dapat duduk didepan. Penonton di belakang menjulur-julurkan lehernya diantara penonton yang penuh sesak.
Empat wanita berusia sekitar 23 tahun menari-nari sekenanya tanpa dibalut sehelai benangpun alias telanjang bulat. Sambil mengangkang, mereka me-ngeluarkan ikan dari dalam vaginanya dan dimasukkan ke dalam akuarium kecil. Seorang wanita berambut sebahu, sambi berdiri menarik sesuatu dari selangka-ngannya. Ternyata, seekor burung sebesar burung pipit yang kakinya diikat de-ngan benang, lalu dilepas ke arah penonton. Ini burung sebenarnya bukan “burung” yang itu.
Puluhan lelaki berjingkrak kegirangan bercampur heran. Berbagai atraksi ditampilkan. Ada atraksi menulis di white board dengan spidol yang dipasang di vagina, membuka tutup botol serta me-matikan lilin dan meletuskan balon dari angin perut, lagi-lagi dari vagina. Secara bergantian, wanita-wanita telanjang itu menampilkan ber-bagai at-raksi dengan mengobral tubuh telanjangnya. Ratusan pe-nonton menahan nafas dan menatap tak berkedip. Wanita dan para bule dengan pakaian super tipis, juga tampil atraktif menyu-guhkan lekuk-lekuk tubuhnya yang lentur dengan ta-rian seperti balet. Pelan tapi pasti pakaian mereka pun akhirnya tanggal.
Pertunjukkan Thai Girl Show dengan karcis masuk 500 Bath itu menjadi promosi ampuh dari mulut ke mulut. Lama pertunjukan hanya satu jam. Tapi, be-gitu penonton keluar yang lain sudah antri untuk menyaksikan pertunjukan heboh itu. Tak ada ribut-ribut dan semua berjalan lancar. Malah, di ujung pertunjukan sepasang remaja Thailand memperagakan cara bersenggama di atas panggung tanpa malu-malu. Tapi, sadar atau tidak, inilah promosi ampuh yang menyedot jutaan turis mengalir ke Pattaya. Usai per-tunjukkan, pengelola tempat hiburan itu menyuguhkan segelas air dingin pada penonton dengan gratis.
Sepasang wisatawan yang sudah tua, malah betah berlama-lama menyaksikan pertunjukan itu. Lantaran kesal menunggu, seorang anak muda dalam rombongan wisatawan itu nyeletuk “Wah, bapak itu boleh juga, kayak nggak pernah melakukannya saja,” katanya sambil tertawa. Di Batam memang ada tarian strip-tease, namun itu dilakukan sembunyi-sembunyi. Thailand, memang boleh tahan. ***




