Pasang Surut Judi di Batam (7)
Gelanggang permainan alias Gelper, terus jadi kontroversi. Judi atau bukan. Sempat buka tutup dan dirazia polisi, arena Gelper makin merebak, hingga ke kawasan perumahan. Meski di sejumlah Gelper dipasang tulisan hitam dengan kertas putih dilarang berjudi, polisi tetap menganggap Gelper adalah perjudian dengan modus operandi Gelanggang Permainan.

Entah berapa kali, Mabes Polri turun ke Batam menggerebek Gelper. Komisaris Besar Polisi Napoleon Bonaparte dari Mabes Polri setelah menggerebek Gelper di Hotel Formosa Batam menyebutkan,’’Mabes Polri tidak hanya menggerebek Sky Zone, tapi semua Gelper. Kami menyita mesin dan uang Rp37 juta lebih, serta beberapa orang saksi,’’ katanya kepada wartawan.
Setelah tutup beberapa bulan, diam-diam dua pegawai Dinas Pariwisata Pemko Batam, datang ke Mabes Polri, mencoba melobi dan mengirim surat ke Mabes Polri, agar Gelper dibuka kembali. Tanggal 3 November lalu, Mabes Polri mengirim surat bernomor B/4184/XI/2011/Bareskrim tentang persetujuan permohonan membuka status quo jasa usaha Gelanggang Permainan (Gelper) di Batam.

Padahal, pada tanggal 21 September 2011, ada laporan polisi bernomor LP/594/2011/Bareskrim tentang tindak pidana perjudian di Kota Batam serta surat Irwasum Polri tentang hasil penyelidikan dan monitor perkembangan kegiatan Gelper yang berindikasi perjudian di wilayah Kepri. Tanggal 13 Oktober 2011 Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam mengirim surat permohonan untuk membuka status quo jasa usaha gelanggang permainan mekanik/elektronik di Batam.
Inti surat yang diteken Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri tersebut adalah, demi tercapainya kepastian hukum dan berjalannya usaha di bidang jasa rekreasi dan hiburan khususnya Gelanggang Permainan di Kota Batam, Bareskrim Polri tidak keberatan membuka status quo di setiap lokasi Gelper dan selanjutnya terhadap lokasi tersebut akan dilakukan penyegelan oleh Satpol PP Pemko Batam dengan catatan, pembukaan status quo bersama Bareskrim Polri dan Kepolisian Daerah Riau, Satpol PP Pemko Batam untuk menindaklanjuti pengecekan mesin.
Tulisan berlogo Mabes Polri berdasarkan Surat Perintah Sprint/2011/XI/ 2011/ Bareskrim masih terpasang di seluruh arena Gelper berikut garis polisi (police line) tanggal 21 September 2011. Bunyinya: Diberitahukan bahwa mesin-mesin gelper di ruangan ini telah disita oleh penyidik Bareskrim Polri terkait perjudian.
Meski pejabat Pemko Batam berkali-kali mengatakan Gelper bukan judi, namun hukum positif Indonesia masih memandang berjudi sebagai perbuatan pidana. Masihkah para pejabat bersikeras bahwa Gelper bukan judi? Anehnya, saat di Batam perjudian ditutup, Singapura tahun 2009 malah membuka dua kasino.
Pesan Lee Kuan Yew kepada Habibie, jangan ada judi di Batam, tidak berlaku buat anaknya Lee Hsien Loong, yang menjadi Perdana Menteri dari tahun 2004 hingga 2024 lalu. Anak sulung Lee Kuan Yew, membangun pusat perjudian di Singapura. Tapi, Lee Hsien Loong berpendapat berbeda. Zaman sudah berubah.
Singapura Bangun Dua Kasino
Anehnya, tahun 2004 Batam kota pertama perjudian ditutup, beberapa tahun kemudian, Singapura membangun dua kasino The Marina Bay Sands dan Sentosa World Resorts. Saat krisis global 2009 melanda, ekonomi Singapura anljok minus 5 persen. Namun, tahun 2010 ekonomi Singapura tumbuh dua digit mencapai 14,7 persen, tertinggi dalam sejarah. Banyak pihak menduga, ini karena beroperasinya dua kasino di Sentosa dan Marina Bay.

Ribuan pekerja konstruksi bekerja siang dan malam. Ratusan kendaraan-kendaraan besar yang keluar-masuk kawasan pembangunan untuk mengangkat bahan-bahan bangunan. Segala macam alat berat seperti eskavator, buldozer, kren, tak henti-hentinya meraung. Di Sentosa World Resorts (SWR), bangunan utama berbentuk kubah sudah mulai menampakkan wujud aslinya. Dibangun di kawasan wisata Pulau Sentosa, SWR nyaris membutuhkan seperempat lahan pulau tersebut.
Integrasi antara sarana transportasi dan kawasan judi dibuat sedemikian rupa hingga akan memudahkan orang berkunjung ke sana. Monorel yang menghubungkan Pelabuhan Harbourfront dengan Pulau Sentosa, nantinya bakal menembus masuk dalam bangunan SWR . Cable car pun dirancang ulang sebagai alat transportasi baru.

Bagi yang bermobil, sudah disiapkan berhektar-hektar lahan parkir proyek senilai S$6.59 miliar yang dikerjakan oleh perusahaan judi Malaysia, Genting International. Nantinya, orang Batam atau Indonesia yang ingin berjudi, tinggal mengeluarkan uang tak lebih dari S$ 8 untuk bisa masuk ke SWR. Tapi untuk bertaruh, tentu saja tak cukup dengan bekal uang sekecil itu.
The Marina Bay Sands (MBS) jauh lebih massif. Dibangun oleh perusahaan judi terbesar dunia Las Vegas Sands, daerah wisata MBS nantinya akan berpadu dengan Marina Barrage, dam yang indah dan mengesankan itu. MBS akan dikelilingi taman yang luar biasa besar dan indah. Bahkan disebut-sebut akan menjadi taman bunga terbesar di Asia. Ribuan bunga dan pohon aneka jenis teronggak di lokasi pembangunan taman, siap ditanam.
Selain berjudi, pengunjung MBS nantinya akan bisa berbelanja, menikmati hotel bintang lima, sekaligus mengasah otak di museum Lotus yang akan dibangun searea dengan MBS. Proyek senilai S$226 juta itu direncanakan bakal dibuka tahun depan.
Singapura, dengan proyek dua rumah judi mereka yang luar biasa, tampaknya sudah berhitung betul sisi buruk dan manfaat yang bakal didapatkan. Dalam pembangunannya saja, ribuan pekerja dan jutaan dolar uang berputar. Ketika tahun ini Singapura dihantam krisis hingga menyebabkan ribuan warga menganggur, MBS dan SWR memberi lowongan kerja sekitar 4.000 warganya.
Antrian panjang terlihat ketika pihak manajemen MBS dan SWR membuka bursa lowongan pekerjaan di mal-mal seantero Singapura. Beberapa bulan lalu ketika dua kasino tersebut membuka sekitar 450 karyawan, ada sekitar 5.000 pencari kerja Singapura antri mendapatkan formulir lamaran.
Mengutip The Straits Times, antrian tersebut dianggap sebagai antrian terbanyak pencari kerja sepanjang sepuluh tahun terakhir. Jika sudah jadi nanti, Pemerintah Singapura memprediksi bisa mempekerjakan 10.000 orang hanya untuk Sentosa Worlds Resort.
Hotel-hotel dipastikan bakal penuh jika dua rumah judi nanti akan dibuka. Pelaku judi yang disyaratkan harus berpaspor asing, tentu saja datang ke Singapura dengan segepok uang yang tak hanya dihabiskan di meja judi.Tentu saja mereka butuh makan, tempat tinggal, pakaian, dan tak akan segan mengeluarkan uang untuk keperluan ini.
Bukan hanya pemerintah yang menangguk untung dari pajak kunjungan mereka, tapi pelaku usaha di Singapura dipastikan kecipratan untung dengan pembukaan dua rumah judi tersebut. Genting Singapura Plc, operator judi terbesar di Asia, melakukan soft opening Resorts World Sentosa, pusat perjudian kasino pertama di Singapura, sejak 14 Februari 2010, bertepatan dengan Imlek. Sedangkan Marina Bay Sands, beroperasi pada akhir April 2010.
Marina Bay Sands, hotel sekaligus kasino terbesar setelah Macau, menyedot perhatian pejudi dunia. Di dalam kasino terhampar 600 meja permainan dan 1.500 mesin judi. Kasino seluas 15 ribu meter persegi yang berlokasi di Bayfront Ave Singapore itu memiliki fasilitas lengkap, kasino yang terintegrasi satu bangunan dengan pusat perbelanjaan dan Sand Expo Convention Center itu mampu menyedot begitu banyak pejudi.
Fakta menarik lainnya, wisatawan asing tidak dikenakan biaya masuk untuk bermain di dalam kasino melainkan cukup menunjukkan paspor. Sedangkan bagi warga Singapura, harus membayar SGD 100 atau sekitar Rp 1 jutaan untuk tiket masuk kasino.
Menurut President and Chief Operating Officer Las Vegas Sand Corp Michael Leven, ada tiga negara yang masuk dalam kategori tiga besar yang warganya kerap datang berjudi di Marina. Tiga negara itu adalah Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Bahkan, Indonesia masuk dalam tiga besar member pejudi kelas VIP.
Lokasi yang strategis dan jenis permainan yang variatif menjadi salah satu daya pikat pejudi untuk menghabiskan uangnya di sana. Kasino mewah yang terdiri atas empat lantai itu menyediakan ragam permainan meja populer. Sebut saja, Roulette, Blackjack, Baccarat dan Sic Bo. Juga aneka mesin judi dengan permainan terbaru seperti Poker video, Sic Bo, dan Roulette elektronik.
Tak hanya melirik pejudi dari Asia, Sands yang merupakan grup Kasino terbesar di Las Vegas dan memiliki Kasino di Macau itu juga membidik pejudi Eropa, Inggris, dan Timur Tengah. (bersambung)




