Ada Jackpot dan Kasino Ilegal

Pasang Surut Judi di Batam (2)

 

Perjudian di Pulau Batam memiliki rekam jejak yang panjang. Batam saat itu, terkenal dengan hiburan malam, dunia gemerlap alias dugem, diskotik dan karaoke menjamur dan tentu saja perjudian, merajalela. Sejak awal tahun 1990 mesin-mesin slot dan jackpot, mulai beroperasi di Batam.

Tahun 1980-an interaksi warga Batam dengan warga Singapura dan Malaysia, makin intens. Interaksi bisnis dan perdagangan juga meningkat pesat. Pada periode ini, mesin-mesin mekanis dan elektronik sederhana seperti jackpot dan mesin slot mulai masuk secara informal di kawasan pelabuhan dan hiburan malam kawasan Nagoya.

Yang mengejutkan, diam-diam perjudian meja kasino seperti baccarat, roulette dan blackjack sempat beroperasi secara tertutup, dengan berkedok fasilitas hiburan untuk wisatawan asing. Kasino ilegal ini beroperasi di Hiltop Hotel di kawasan perbukitan Sekupang, tahun 1988.

Kasino ini banyak dikunjungi turis asal Singapura. Namun, operasinya hanya bertahan sekitar 3 bulan setelah digerebek aparat keamanan pusat atas perintah Jakarta menyusul protes diplomatik dari Singapura.

Setelah kasusnya reda, awal tahun 1990-an mulai bermunculan amusement alias tempat hiburan yang menyediakan berbagai mesin judi seperti poker, mickey mouse atau MM, rolet, tebak bola pingpong sampai ke kupon sie jie, di berbagai sudut kota Batam, terutama kawasan Jodoh, Nagoya dan Penuin.

Amusement  dan mesin jackpot makin marak. Penggemarnya tidak hanya warga Singapura, tapi lebih banyak warga Indonesia dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Medan dan Surabaya. Tentu saja, warga Batam sendiri yang hobi berjudi. Pemain sangat dimanjakan. Dapat kopi, teh atau teh obeng gratis. Juga, makan dan rokok gratis. Jadi, mereka fokus melawan mesin jackpot. Malah, ada yang tidak pulang berhari-hari, sampai uangnya habis.

’’Enak main di Batam ini. Aman dan tidak digerebek polisi. Dapat makan minum gratis pula,’’ kata Djoko, yang sengaja datang ke Batam dari Jalarta, main judi sambil terkekeh. Ada trik licik yang dijalankan penjaga mesin jackpot yang disebut wasit dan pengawas. Mereka menandai orang dan pemain baru seperti Djoko. Baru coba sekali bermain, Djoko langsung menang.

Wasit dan pemain berteriak: hossee. Setelah itu, Djoko tidak pernah menang lagi. Malah, menggesek kartu kreditnya karena kalah cukup banyak. Kemenangan pertama itu, membuat Djoko ketagihan. Padahal, ia mendapatkan kemenangan karena mesinnya disetel untuk menang.

Tempat-tempat perjudian itu ada yang beroperasi paruh waktu, ada yang tutup dini hari, dan ada pula yang buka nonstop 24 jam. Beberapa tempat judi yang terkenal saat itu antara lain, Skyvilla, Studio Centre Penuin serta ruko-ruko yang disulap menjadi arena judi. Selain itu, diam-diam dan secara tertutup, perjudian sejenis kasino dibuka di Marina City, Teluk Senimba dan Hotel Mandarin yang kemudian berubah nama menjadi Goodway Hotel.

Batam menjelma menjadi kota judi. Apa yang dilakukan aparat penegak hukum, Pemko Batam dan DPRD Batam melihat kondisi itu? (bersambung)

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *