By Socrates – Mimpi saya jalan-jalan ke Eropa jadi kenyataan. Bukan hanya satu negara, tapi enam. Mulai dari Jerman, Belgia, Belanda, Perancis, Swiss dan Italia. Berkeliling beberapa negara di Eropa lewat darat naik bus, jadi pengalaman menyenangkan. Tujuan utamnya, mengikuti pameran kelas dunia di Dusseldorf, Jerman. Inilah catatan perjalanan keliling Eropa.
Terbang dari Jakarta naik pesawat Etihad, pukul 18.45 WIB selama 7 jam lebih, saya transit di bandara internasional Abudhabi. Kini, Namanya Bandar Udara Internasional Zayed. Bandar udara yang terletak di timur kota Abu Dhabi ini, adalah bandar udara terbesar kedua di Uni Emirates Arab setelah Bandara Internasional Dubai, melayani sekitar 20 juta penumpang tahun 2014.
Terdapat lebih dari 30 maskapai penerbangan yang melayani di bandar udara ini dan menawarkan layanan ke lebih dari 120 tujuan di lebih dari 60 negara di seluruh dunia. Pesawat mendarat di bandara Frankfurt 7 jam kemudian. Praktis, perjalanan ke Eropa ditempuh selama 14 jam. Saya kagum melihat bandara Abu Dhabi. Bandaranya besar. Penuh dengan mal. Pesawat take off dan landing setiap 10 menit. Kalau beli sarapan, semua mata uang diterima, tanpa perlu menukar ke money changer.
Saya mendarat di Bandar Udara Frankfurt am Main, bandara terbesar di Jerman. Udara Eropa yang sejuk dan dingin mulai terasa begitu turun pesawat. Pagi yang cerah itu, kami dijemput Lothar Bekkers, supir bus warga Jerman yang akan membawa kami keliling Eropa. Setelah berkeliling Frankfurt sebentar, perjalanan diteruskan ke Brussel, Belgia.
Pusat kota Belgia merupakan perpaduan antara kota tua dan kota baru yang modern. Bangunan kuno, gedung-gedung tua tetap dipertahankan. Ciri khas kota-kota di Eropa, transportasi publik tetap diutamakan. Trem listrik melintasi kota Brussel menaikturunkan penumpang di halte yang disediakan. Orang Indonesia, terbiasa makan nasi. Kalau tidak dapat nasi, seeara belum makan. Nah, karena perjalanan keliling Eropa makin lama makin sulit dapat nasi, maka sengaja kami dibawa ke restoran Garuda, dengan masakan khas Indonesia, di pusat kota Belgia. Menunya, nasi putih, ayam gulai, udang goreng mentega dan sayuran. Tukang masaknya orang Sunda, sedangkan pelayannya bule berbaju batik.
Perjalanan diteruskan ke Amsterdam. Udara dingin menusuk tulang saat kami check in di Novotel Amsterdam. Apalagi, cuaca di Amsterdam memang hujan ringan dan berkabut. Malamnya, saya dan beberapa teman pergi ke Red Light District yang terkenal di Amsterdam itu. Lebih karena penasaran. Kabarnya, ini kawasan paling hot di Belanda. Kawasan Red Light terletak di Pusat kota Amsterdam yang dibelah oleh sungai kecil. Di kiri dan kanan sungai berjejer pub, night club, dan tempat prostitusi yang beroperasi secara legal. Wanita-wanita berpakaian seksi dan telanjang, berdiri di balik kaca menggoda pria hidung belang yang lalu lalang.
Nama Red Light berasal dari nama salah satu tempat hiburan di kawasan itu. Orang lalu lalang, melirik ke balik kaca tempat wanita-wanita yang siap melayani tamu. Di beberapa night club, beberapa lelaki memakai jas menawarkan berbagai pertunjukan andalan mereka kepada setiap orang yang lewat. Karena penasaran, saya dan beberapa teman mencoba masuk. Tarifnya mahal. Satu orang dikenakan 50 Euro, dan dapat minuman empat botol bir. Kalau tanpa minum bir, hanya 35 euro. Di lantai dua, ada panggung kecil dan bangku berderet tempat para penonton. Ternyata, pertunjukan sudah dimulai. Tidak hanya lelaki, juga ada beberapa wanita dengan pasangannya ikut menonton.
Alamak! Pertunjukan yang disuguhkan adalah hubungan seks secara vulgar. Pemain-nya bisa satu orang wanita, atau sepasang lelaki dan perempuan. Ada enam pertun-jukan dan masing-masing 15 menit, lalu pemainnya diganti setelah layar diturunkan. Pertunjukannya jauh lebih vulgar dibandingkan Thai Girl Show di Tahiland, yang terkenal itu. Belanda kami telusuri naik kapal menyusuri sungai. menyaksikan bangunan tua di Pusat kota Amsterdam. saya jadi teringat cerita saat kecil bahwa Belanda mengeruk kekayaan Indonesia untuk membangun dam memagari Amsterdam dari air laut. Ada juga teman yang punya pikiran aneh. Setelah ia kencing di toilet, ia berkata,’’ Sudah aku kencingi Belanda yang dulu menjajah kita,’’ katanya, tertawa. Ada-ada saja.

Di seberang jalan, ada sex museum. Tiket masuknya 4 Euro per orang. awalnya, teman-teman saya malu-malu, masuk ke tempat begituan. Ternyata, isinya lebih banyak ilmu pengetahuan tentang hubungan lelaki dan perempuan dari masa ke masa. Tentu saja, berbagai alat peraga menyangkut urusan seks dipajang disitu. Termasuk beberapa alat seperti cambuk, borgol, besi yang digunakan para maniak yang dikenal dengan istilah sadomasokisme. Yakni, di mana seseorang mendapatkan kepuasan—termasuk kenikmatan seksual—dari tindakan memberikan rasa sakit, penderitaan, atau penghinaan kepada orang lain, ataupun dari menerima rasa sakit dan penghinaan tersebut. Dari sinilah istilah sadism berasal, diambil dari nama Marquis de Sade. Sehari semalam di Belanda, kami kembali ke Jerman, tepatnya ke kota Koln.
Agar lebih dekat ke Dusseldorf, lokasi pameran Drupa, kami menginap di Hotel Clisterman Hof di pinggir kota Koln. Semula, kami agak kecewa lantaran tempatnya sepi. Ternyata, hotel ini bagus sekali. Konon, dulunya adalah pesanggrahan dan istal kuda. Pekarangannya luas dan hijau. udaranya sejuk dan dingin. malamnya, saya dan beberapa teman, pergi ke pusat kota Koln, melihat seperti apa suasananya. Namanya Pasha. Lokasi seperti hotel, dijadikan sarana prostitusi. wanita- wanita berpakaian seksi atau malah bugil sama sekali, duduk di bangku depan kamarnya, menanti lelaki hidung belang. Sepanjang jalan, selain pepohonan yang tertata, tanaman rabs yang menguning kontras dengan rumput hijau di sekitarnya. Tanaman rabs itu diolah jadi biodiesel dan bahan bakar. Selama keliling antar kota di Eropa, hamparan tanaman ini hampir sama. Semua kota yang dikunjungi terhubung oleh jalan tol gratis.

Pagi-pagi, kami semua siap ke Duseldorf, sekitar satu jam naik bus. Inilah pameran industri terbesar di dunia. Lokasinya sangat luas. Ada 17 gedung atau hall yang digunakan untuk pameran. Tidak mungkin mengelilingi lokasi pameran dalam sehari, saking luasnya. tempat parkir pun ditata sangat ketat dan rapi. Bukan hanya kendaraan pribadi, juga ratusan bus yang membawa pengunjung yang datang berombongan. Orang-orang hilir mudik di lokasi pameran. Kabarnya, ada sekitar 2.000 orang pengusaha Indonesia yang hadir.
Sorenya, kami meneruskan perjalanan ke kota Koln. Saya agak bingung, nama kota ini Cologne atau Koln. Ternyata, nama ini sama. Di pusat kota ada gereja sangat tua. Saya bergidik melihatnya karena bangunannya mirip candi, hitam dan berlumut. Tiba tiba, saya menemukan ada toko parfum merek 4711 Eu Decologne. Waktu saya kecil, ibu saya sangat suka dengan merek parfum ini. Saya mengira, 4711 adalah buatan Perancis, Ternyata Jerman punya. Saya belikan ibu saya buat oleh-oleh. Pada wanita tua penjual parfum saya bertanya, kenapa Ibu saya suka dengan parfum merek ini? Dia bilang, memang parfum 4711 kesukaan lama wanita yang kini sudah jadi nenek-nenek. Oalah.
Kami makan siang di restoran China yang bising karena banyak orang China juga makan. Lalu, bus bergerak ke Paris. Waktu tempuhnya lumaya lama. Enam jam. Pantat mulai terasa panas. Saya kadang duduk di depan, kadang pindah ke belakang. keinginan melihat secara langsung menara Eiffel itu, membuat kami bertahan. untunglah, sekali dua jam bus berhenti. Supirnya istirahat, sebagian kami merokok atau ke toilet. Supir bus kami namanya Lothar Bekkers. Orang Jerman dan badannya tinggi besar. Orangnya lucu. Entah kenapa dia menjuluki saya mafioso. Hebatnya, Ia sangat disiplin. Kecepatan bus tak pernah lebih 100 kilometer per jam. Ada alat khusus seperti kaset video yang merekam aktivitas bus, kecepatan atau berapa lama ia berhenti istirahat. Meski jalanan sepi sekalipun. 
Saat memasuki Paris, ditandai dengan papan penunjuk jalan yang berbahasa Perancis. jangan bayangkan ada gapura atau papan selamat datang di Perancis seperti di Indonesia. Tak ada sama sekali. Bus antar negara dan truk truk beroda sepuluh, lalu lalang antar negara di Eropa. Bedanya, adalah di nomor polisinya yang ada kode kode tertentu.
Paris memang luar biasa. Kotanya indah, tertata rapi dan banyak sekali gedung gedung tua yan masih terawat dengan baik. Kota mode ini memang asyik dan menarik. gedung gedung bersejarah, patung hasil mahakarya para seniman, taman taman yang indah, dan warga Paris nan modis sehingga kota yang punya menara Eiffel dan istana Louvre itu selalu menjadi impian wisatawan dari berbagai belahan dunia. Saya sempat terlambat hampir satu jam. Bukan karena belanja beli oleh-oleh, tapi terpesona dengan seorang pria yang main sepatu roda meliuk-liuk melewati gelas plastik yang disusun terbalik berjejer dengan jarak sepuluh jengkal. Tidak satu pun gelas yang kena. Penonton yang spontan menyaksikan ulah lelaki bertampang Timur Tengah itu, bertepuk tangan. Saya berlari kembali ke bus yang sudah mau berangkat.
Kami menginap semalam di Paris. Kamar hotel kecil dan diisi berdua. Tempat tidur hanya selebar setengah meter. Meski kasurnya empuk, ada juga teman di kamar lain yang jatuh dari tempat tidur. Buk! Sudahlah kecil begitu, tarif hotelnya mahal pula. Semalam sekitar Rp2 juta. Coba kalau di Batam, itu sudah kelas suite room. Malam- malam di Paris kami nyaris tertipu. Seorang pria Perancis mengenakan jas mendekati saya saat jalan sendirian. Ia bicara kepada saya seperti orang berkumur kumur karena saya tidak paham bahasa Perancis. Saya bilang, No! No! sambil menjauh. Saya penasaran. Sebenarnya, dia mau bilang apa sih? Saya ajak dua teman lainnya yang kebetulan bertemu di jalan menemui si Perancis itu lagi
Kami diajak bertemu temannya, seorang wanita cantik. Namanya Anita. Ternyata, kami ditawari masuk night club. Tiket masuknya satu orang 15 Euro. Setelah duduk, datang tiga cewek seksi menemani. Bahasa Inggrisnya kacau. lalu mereka minta dibelikan minuman. Merasa tak enak, kami mengangguk. walah, segelas minumannya 25 Euro dikali tiga. sebentar saja 130 Euro lenyap. Atau setara dengan Rp1,6 juta. Iseng iseng teman saya bertanya, berapa yang harus kami bayar kalau ketiganya ikut dengan kami malam itu. Dengan bahasa yang sulit dipahami, mereka bilang, masing-masing kami harus beli dua botol sampanye dan sebotol harganya 300 Euro. jadi, satu orang harus keluar uang 600 Euro. wah, kalau dihitung, totalnya 1.800 Euro atau Rp22’5 juta. Alamak! kami langsung cabut dari situ.

Paris tentu tidak lengkap melihat dari dekat menara Eiffel. Menara yang dibangun Gustav Eiffel ini, menjadi ikon dunia. Tempat paling ramai dikunjungi melihat Eiffel dari dekat adalah di Camp de Mars di tepi Sungai Seine, Paris. Taman terbuka hijau ini, dulu dijadikan tempat latihan baris berbaris tentara Perancis.Selain itu, museum Louvre yang terkenal dan menyimpan 35.000 benda pra sejarah dan museum seni yang paling banyak dikunjungi di dunia. Museum ini lokasinya di Istana Louvre atau Palais du Louvre. Yang menjadi primadona adalah lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci dan piramida terbalik yang menjadi setting film yang disadur dari novel Da Vinci Code karya Dan Brown itu.
Dari Paris perjalanan ke Swiss memakan waktu 7 jam. Berhenti sejenak di dekat jembatan Jenewa di tepi sungai La Vieille Ville. Di seberang jalan, ada kota tua yang cantik. Swiss terkenal dengan kualitas jam tangannya. Banyak sekali perusahaan jam tangan dunia berasal dari Swiss seperti saja Rolex, Patek Philippe, Tag Heuer, Omega, Corum, dan Swiss Army. Swiss juga terkenal cokelat dan kejunya. Saya sempat berpose di depan taman berbentuk jam yang disebut Genewa Flower Clock, sebuah taman yang bunga-bunga di dalamnya disusun dan dibentuk menjadi sebuah jam raksasa. Saya masuk ke toko jam, mau cuci mata dan penasaran berapa harganya. Saya tersenyum kecut. Paling murah harganya 1500 Euro. Pintu masuk ke toko jam dua lapis dan pakai remote control.

Dari Swiss, perjalanan dilanjutkan ke perbatasan Swiss dan Perancis, di kaki gunung Mont Blanc yang terkenal itu. Yang saya ingat, Mont Blac merek pena mahal. Mont Blanc terletak di sebagian wilayah Perancis dan wilayah Italia. Orang Italia menyebutnya Monte Bianco di pegunungan Alpen dan gunung tertinggi di Eropa Barat. Gunung-gunung bersalju, menjadi pemandangan eksotik. Sepanjang jalan, jembatan panjangnya 2 kilometer atau terowongan yang menembus gunung batu cadas. Dari kaki Mont Blanc, naik skyway besar yang bisa memuat 72 orang. Baju tiga lapis, sarung tangan, pakai topi, tetap saja menggigil. Stasiun perantara kereta gantung Mont Blanc namanyaThe Plan de l’Aiguille merupakan daerah datar bagi yang naik dari Chamonix ke Aiguille de Chamonix. Berada di gunung salju, suasananya memang penuh sensasi. Apalagi, bagi kita yang tidak pernah melihat salju. Saya mengambil potongan salju dan melemparkannya ke udara. Bagi yang kuat, bisa terus mendaki. Napas mulai terasa agak sesak karena oksigen makin menipis.
Perjalanan darat dari Switzerland menuju Milan, Italia sungguh menyenangkan. Pemandangan alam, jalan yang mulus, dan sensasi masuk ke dalam terowongan yang menembus pegunungan Alpen. Seperti terowongan San Gottardo sepanjang 17,5 km dan merupakan terowongan terpanjang kedua di Eropa. Terowongan itu dibor, tanahnya dibawa keluar dengan alat pengangkut seperti rel. Lalu, tanah yang bolong ditempeli dengan beton berukuran 4 meter. Begitu seterusnya sampai terowongan tembus. Saya melihat ada beberapa benteng bekas perang dunia II, rumah-rumah batu di lereng gunung, masih terpelihara dengan baik.
Sedikitnya, ada 20 terowongan yang dilewati. Terowongannya bersih. Tak ada sampah yang dibuang sembarangan. Tak ada air yang menetes. Bebas coretan. Lampunya, berwarna kuning pudar, di dalam terowongan terang.. Ada pintu dan telepon darurat, lampu dan kipas angin dalam terowongan. Yang mulai terasa berbeda adalah nama -nama penunjuk jalan berbahasa Italia. Kunjungan ke stadion San Siro, meski stadion kosong cukup berkesan. San Siro adalah markas Internazionale atau Inter Milan, klub sepakbola yang bermain di Serie A Liga Italia. Sedangkan Associazione Calcio Milan atau AC Milan, juga klub hebat asal Milan.
Uniknya, meski tidak ada pertandingan, San Siro sering dikunjungi turis, dan diajak tur keliling stadion, melihat museum dan kamar ganti pemain. Isinya, tropi kemenangan AC Milan dan Inter Milan, kostum pemain bintang, pelatih, sepatu, foto kedua tim di satu kota itu. Aneka jersey, merchandise kedua tim ini dijual di toko souvenir. Saya pesan kostum AC Milan untuk putra saya yang suka sepakbola. Harga lumayan mahal, plus sablon nama dan nomor punggung. Saya? Pilih kaos Inter Milan.
Mengunjungi Serravalle Designer, sebuah factory outlet di pinggiran kota Milan, juga menarik. Ratusan toko merek branded menawarkan diskon gila-gilaan. Mulai dari fashion, pakaian olah raga, asesoris, perabotan rumah tangga dan kosmetik. Merk-merk seperti, Balenciaga, Bottega Veneta, Burberry, Dior, Ermenegildo, Zegna, Fendi, Giorgio Armani, Gucci, Hogan, Loro Piana, Marni, Pucci, Roberto Cavalli, Savatore Ferragamo, Sergio Rossi, Velentino, Yves Saint Laurent, semua ada. Saya hanya tertarik dengan speaker portable Bose.
Kebiasaan kita keluar negeri, banyak pesanan oleh-oleh. Akibatnya, saat check in di bandara Milan, kelebihan bagasi. Maksimal, hanya 23 kilogram plus tentengan 7 kilogram. Yang membuat saya tersenyum, banyak penumpang pesawat meninggalkan anggur mahal begitu saja di bandara, karena harus bayar denda. Tapi, ada juga orang Italia berkeliling memungut barang-barang yang ditinggal itu untuk dibawa pulang. Trolinya penuh dengan botol anggur. Belakangan, maskapai penerbangan juga membatasi bagasi 10 sampai 15 kilogram. Tapi, tidak ada orang membuang barang di bandara. Mereka lebih memilih membayar kelebihan bagasi. ***




