By Socrates – Lembah Harau adalah lembah tercantik di Sumatera. Lembah yang subur ini, terletak di Kecamatan Harau,  Payakumbuh.  Lembah Harau terkenal sampai ke Belanda, sejak mulai dibuka 14 Agustus 1926. Sebuah monumen peninggalan Belanda terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta. Lembah Harau adalah ngarai dekat Kota Payakumbuh di Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat.

Lembah Harau diapit dua bukit cadas terjal dengan ketinggian mencapai 150 meter berupa batu pasir yang terjal berwarna-warni, dengan ketinggian 100 sampai 500 meter. Topografi cagar alam Harau berbukit-bukit dan berge-lombang. Bukit tersebut antara lain adalah Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak, dan Bukit Tarantang.

Udaranya segar dan sejuk. Tebing-tebing granit yang menjulang tinggi dengan bentuknya yang unik mengelilingi lembah. Menyaksikan hamparan sawah yang indah, itu hal yang sudah biasa. Namun, jika hamparan sawah itu diapit oleh tebing tebing tegak lurus menjulang orang pasti akan berdecak kagum. Pemandangan itu bisa dilihat di Lembah Harau.

Tempat ini ditetapkan sebagai cagar alam sejak 10 Januari 1993. Di Lembah Harau terdapat berbagai spesies tanaman hutan hujan tropis dataran tinggi yang dilindungi, plus sejumlah binatang langka asli Sumatra. Monyet ekor panjang merupakan hewan yang acap terlihat di kawasan ini.

Lembah Harau ini terdiri dari tiga kawasan: Resort Aka Barayun, Resort Sarasah Bunta, dan Resort Rimbo Piobang . Pada resort Aka Barayun yang memiliki keinda-han air terjun yang mempunyai kolam renang, yang memberikan nuansa alam yang asli juga berpotensi untuk pengembangan olahraga panjat tebing karena memiliki bukit batu yang terjal dan juga mempunyai lokasi yang bisa memantulkan suara (echo).

Terdapat tujuh air terjun di Lembah Harau di antaranya Air Terjun Aka Barayun, Sarasah Donat, Sarasah Boenta, Sarasah Talang, Sarasah Murai, Ketinggian masing-masing air terjun berbeda-beda antara 50-90 meter. Bukit batu terjal di kiri kanan dengan ketinggian 100 sampai 500 meter, suasana alam pegunungan yang asri, serta air terjun yang disebut sarasah, empat sungai yang jernih  adalah ciri khas Lembah Harau.

Terbentuknya lembah harau dikarenakan adanya patahan turun atau block yang turun membentuk lembah yang cukup luas dan datar. Salah satu tanda-tanda atau untuk melihat di mana lokasi patahannya adalah dengan adanya air terjun. Ini artinya dahulu ada sungai yang kemudian terpotong akibat adanya patahan turun, sehingga membentuk air terjun.

Lembah Harau jaraknya 138 kilometer dari Padang, 47 kilometer dari Bukit-tinggi dan 18 kilometer dari kota Payakumbuh. Harau adalah cagar alam sluas 315 ha yang lalu dijadikan hutan wisata 298 ha dan taman wisata seluas  270,5 hektar.

Secara geologi, batuan yang ada disitu berumur cukup tua, kira-kira 30-40 juta tahun. Menurut beberapa ahli geologi dahulunya lembah harau merupakan lautan.  Tim survey geologi dari Jerman tahun 1980 meneliti batu-batuan Lembah Harau.  Ternyata, batu di perbukitan Lem-bah Harau adalah batuan breksi dan konglomerat yang merupakan jenis bebatuan yang umumnya terdapat di dasar laut.

Konon, apabila ada pelangi, warga setempat percaya, para bidadari akan  turun dari khayangan, mandi-mandi di sarasah tersebut, Kabarnya, ada mahasiswa yang berhasil memotret bidadari yang melayang di air terjun. Sedangkan legenda lain yang populer di masyarakat setempat mengenai terbentuknya Harau adalah legenda Puti Sari Banilai.

Cerita yang masih hidup di tengah masyarakat Lembah Harau itu dikenal sebagai Randai Sari Banilai dan kemudian menjadi salah satu kesenian tradisional masyarakat Lembah Harau.

Jika dikaitkan dengan bahasa lokal Harau berarti ‘parau’ atau bersuara serak. Konon katanya pada zaman dahulu penduduk yang tinggal di atas Bukit Jambu salah satu bukit di harau sering terkena bencana banjir dan longsor sehingga menyebabkan kepanikan. Mereka sering berteriak-teriak histeris sehingga lama-lama suara mereka menjadi parau.

Di Lembah Harau juga terdapat fasiltas penginapan berupa homestay yang bisa dimanfaatkan wisatawan yang ingin menginap lengkap dengan fasilitasnya. Namun, lantaran makin banyaknya bangunan dan homestay, Lembah Harau kehilangan keasriannya. ***

 

 

 

 

 

 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *