Singapore Museum Day, Ada Wayang di Negara  Tetangga

By Sultan Yohana – Bagaimana cara Singapura menarik jutaan wisatawan mancanegara, sementara Batam makin menjamur rumah-rumah toko atau ruko? Salah satunya adalah, museum. Ya, museum. Malah, ada museum yang memamerkan wayang. Singapura memiliki sekitar 50 hingga 115 museum dan galeri utama, tergantung pada batasan kategori yang dihitung, termasuk museum nasional, museum swasta, galeri seni, serta pusat warisan budaya.

Beberapa museum terkenal di Singapura antara lain, Museum Nasional Singapura (National Museum of Singapore): Museum tertua di Singapura yang menampilkan sejarah 700 tahun negara tersebut. Galeri Nasional Singapura (National Gallery Singapore) yang menampung koleksi seni modern terbesar di Asia Tenggara. Juga ada Museum Seni & Sains (Art Science Museum) di Marina Bay Sands dengan bentuk ikonik menyerupai bunga lotus. Museum Peradaban Asia (Asian Civilisations Museum) yang fokus pada sejarah dan koneksi budaya Asia, serta Museum Peranakan (Peranakan Museum) menampilkan sejarah dan kekayaan budaya komunitas Peranakan.

Saat saya ke museum, seorang lelaki Tionghoa mengunjungi museum. Ada kekaguman tergurat di wajah lelaki Tionghoa itu. Ketika perhatiannya tertuju sebidang akuarium kaca peninggalan-peninggalan kuno Suku Batak. Beberapa buku tua, tanduk sapi berukir, patung kepala tertata apik di dalam akuarium berpenerang bohlam itu. Kekaguman lelaki semakin terlihat, sesaat setelah perhatiannya tertuju pada gorga Batak atau ukiran balok kayu yang biasa menjadi atap rumah bolon, rumah besar suku Batak. Gorga yang berdiri gagah mengangkangi akuarium kaca itu, memang menjadi koleksi salah satu dari sekitar 5.000 koleksi Asian Civilisations Museum, Singapura. Di museum inilah, budaya tua negeri-negeri di Asia Tenggara, Asia Selatan, China, Islam dihidupkan kembali.

Sebelah menyebelah dari gorga dan aneka koleksi Suku Batak, patung Osa-osa mencuri perhatian karena diletakkan tepat di tengah lorong ruang Tribal Southerast Asia. Patung Osa-osa, yang didatangkan langsung dari Pulau Nias, di kampung aslinya merupakan sebuah simbol status ningrat pemiliknya. Tak kalah kekaguman seperti lelaki Tionghoa tadi, saya mencoba mempercayai kenyataan, kenapa saya harus belajar dan menikmati warisan leluhur Indonesia justru di negeri tetangga.

Ruang Tribal Southerast Asia sendiri, merupakan satu dari belasan ruang di Asian Civilisations Museum, yang khusus berisi koleksi-koleksi tua yang dianggap berbahan material unik. Selain Batak dan Nias, aneka macam barang-barang kuno Suku Dayak bisa dinikmati di sana. Ruang lain, diberi nama sesuai dengan asal koleksinya. Seperti Ruang Javanese Kingdom yang berisi segala macam pernik warisan Kerajaan Jawa; Ruang Malay World; Ruang Hindu Buddhist Kingdom, dan Ruang Vernacular Buddhism.

Bersamaan dengan momen Singapore Art Festival dan Great Singapore Sale, dunia permusemuman Negeri Singa itu tak mau kalah berpromosi menarik pengunjung. Dan, tanggal 31 Mei hingga 2 Juni, ditetapkan sebagai Museum Day. Di tanggal itu,  museum di seantero Singapura, menggratiskan biaya masuk. Ketika itu, saya sempat bingung, harus memilih museum yang mana yang akan saya kunjungi di kesempatan ini. Asian Civilisations Museum, akhirnya yang menjadi pilihan yang saya kunjungi. Letaknya yang berada tepat di tepi Singapore River, memungkinkan kaki untuk mengunjungi tempat-tempat lain yang menarik di sekujur tepi Singapore River. Sepelemparan batu dari gedung Asian Civilisations Museum, berdiri Raffles Museum yang merupakan museum berisi peninggalan-peninggalan Gubernur pertama sekaligus Bapak Singapura, Sir Thomas Stamford Raffles.

Jika museum-museum di Indonesia mengaku kekurangan dana dan terpaksa harus menjual koleksinya, di Singapura, puluhan museum menjadi daya tarik berbeda di tengah maraknya tempat-tempat belanja. Museum-museum Singapura tidak hanya menjadi tempat “angker” yang berisi koleksi-koleksi tua. Namun juga menjadi pendulang dolar yang atraktif. Di luar tiga hari yang digratiskan tadi, setiap pengunjung Asian Civilisations Museum dikenai biaya masuk 8 dolar. Anak-anak di bawah enam tahun, tak dipungut biaya. Belum lagi aneka cinderamata yang dijual pihak museum.

Kesan angker museum di Singapura sirna oleh berbagai even atraktif. Akhir pekan kemarin ketika saya berkunjung ke Asian Civilisations Museum, aneka kegiatan budaya Vietnam tengah digelar di sana. “Performa selalu berganti. Bulan Mei sampai September giliran kebudayaan Vietnam yang kami tampilkan,’’ jawab seorang petugas museum, ketika saya tanya adakah performa dari Jawa yang akan ditampilkan di Asian Civilisations Museum. “Kalau mau lihat wayang, malam nanti di Litte India,’’ katanya dalam bahasa Melayu.

Tidak hanya gorga Batak dan patung Osa-osa yang bias saya nikmati akhir pekan. Seperangkat wayang kulit plus gamelan, dan slideshow klip seorang dalang yang tergambar lewat proyektor pun dengan leluasa saya nikmati. Aneka perhiasan emas mulai dari jaman Kerajaan Budha Sriwijaya di Sumatera hingga Mataram. Bahkan tulisan tangan Alquran dari jaman Khalifah Usmaniyah ada.

Petugas wanita museum itu juga menjelaskan, semua koleksi Asian Civilisations Museum bukan milik museum sendiri. Sebagian disewa dari pemilik atau kolektor barang kuno. Sebagian lagi, katanya, banyak yang diperoleh dari sumbangan-sumbangan masyarakat umum. Petugas itu juga menambahkan, dalam catatannya kebanyakan yang berkunjung ke Asian Civilisations memang wisatawan mancanegara. “Dari Indonesia? Tak terlalu ada,’’ jawabnya lagi ketika saya tanya apakah banyak pengunjung dari Indonesia.

Dalam kunjungan yang lain di Singapura setahun silam, saya sempat berkunjung ke Singapore Art Museum. Jika sebelumnya saya hanya bisa menikmati lukisan sang maesto Affandi (almarhum) di koran dan catalog-katalog lukisan, di sana saya bisa langsung mengagumi goresan-goresan kasarnya. Lukisan Affandi bersanding dengan lukisan maestro abstrak Jackson Pollock atau pelukis surealis Salvatore Dali, hati saya teriris, kenapa semua ini harus saya nikmati di negeri tetangga. ***

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *